Setiap peneliti yang pernah mengirimkan naskah ke sebuah jurnal pasti akrab dengan satu momen yang sama: menunggu. Status “under review” di dashboard OJS bisa bertahan berminggu-minggu, kadang berbulan-bulan, dan selama itu naskah terasa seperti masuk ke ruang gelap yang tidak jelas apa yang terjadi di dalamnya.
Di Diklinko, kami ingin membuka sedikit ruang itu, bukan untuk membongkar kerahasiaan proses review, tapi untuk membantu penulis memahami logika di baliknya, supaya prosesnya terasa lebih masuk akal, bukan sekadar birokrasi yang harus dilalui.
Tahap Pertama: Bukan Reviewer, Tapi Editor
Sebelum naskah sampai ke tangan reviewer, ada tahap yang sering dilewatkan dari pembahasan: desk review oleh editor. Di tahap ini, editor memeriksa apakah naskah sesuai dengan ruang lingkup (scope) jurnal, memenuhi standar format dasar, dan tidak memiliki masalah etik yang jelas terlihat sejak awal, misalnya indikasi duplikasi publikasi atau plagiarisme kasar.
Naskah yang tidak lolos tahap ini akan langsung ditolak (desk rejection) tanpa masuk ke proses review lebih lanjut. Ini sering membuat penulis kecewa karena terasa cepat, tapi sebenarnya ini melindungi waktu semua pihak, termasuk waktu penulis sendiri, supaya bisa segera mengirim ke jurnal yang lebih sesuai.
Memilih Reviewer Bukan Perkara Acak
Setelah lolos desk review, tantangan berikutnya adalah mencari reviewer yang tepat. Ini sering jadi titik paling memakan waktu dalam keseluruhan proses. Editor biasanya mempertimbangkan:
- Kesesuaian bidang keahlian dengan topik naskah
- Rekam jejak publikasi reviewer di area terkait
- Potensi konflik kepentingan (misalnya hubungan institusi atau kolaborasi sebelumnya dengan penulis)
- Ketersediaan waktu: banyak reviewer potensial menolak undangan karena kesibukan lain
Tidak jarang editor harus mengirim undangan ke lima hingga tujuh calon reviewer hanya untuk mendapatkan dua yang bersedia. Inilah salah satu alasan utama mengapa proses review bisa terasa lambat dari sudut pandang penulis.
Dua Kepala, Dua Perspektif
Kebanyakan jurnal (termasuk yang kami kelola) menerapkan double-blind review, di mana penulis tidak tahu siapa reviewer-nya, dan sebaliknya. Tujuannya sederhana: menjaga objektivitas, supaya penilaian murni berdasarkan kualitas naskah, bukan nama besar penulis atau afiliasi institusinya.
Ketika dua reviewer memberi rekomendasi yang berbeda, satu bilang accept, satu lagi bilang reject, di sinilah peran editor menjadi krusial. Editor tidak sekadar menghitung suara terbanyak. Editor membaca kedua ulasan secara mendalam, mempertimbangkan bobot argumen masing-masing reviewer, dan pada banyak kasus meminta pendapat reviewer ketiga sebagai penengah.
Revisi Bukan Tanda Kegagalan
Salah satu miskonsepsi yang paling sering kami temui: penulis menganggap permintaan revisi besar (major revision) sebagai sinyal bahwa naskah mereka “hampir ditolak”. Padahal sebaliknya, revisi besar justru berarti reviewer melihat potensi kuat dalam naskah tersebut, cukup kuat sehingga mereka bersedia meluangkan waktu menuliskan catatan detail tentang apa yang perlu diperbaiki.
Naskah yang benar-benar lemah biasanya langsung direkomendasikan untuk ditolak, tanpa catatan revisi panjang, karena reviewer tidak melihat ada yang bisa diselamatkan.
Kenapa Ini Penting Diketahui Penulis
Memahami logika di balik proses ini bukan sekadar soal rasa ingin tahu. Penulis yang memahami bagaimana editor dan reviewer bekerja cenderung:
- Menulis cover letter yang lebih strategis saat submission
- Merespons catatan revisi dengan lebih presisi dan tidak defensif
- Memilih jurnal yang benar-benar sesuai scope, mengurangi risiko desk rejection
Di Diklinko, transparansi semacam ini adalah bagian dari komitmen kami terhadap ekosistem penerbitan yang lebih sehat, di mana penulis bukan sekadar menunggu di ruang gelap, tapi memahami perjalanan naskah mereka dari awal hingga akhir.