Uang Palsu dan Jilbab Palsu, Sebuah Renungan Menjelang Malam.

Ditulis oleh
Diperbaharui 29 Januari 2018


12418101 1522193538081582 6567260174039135093 n

Lelaki bersurban putih itu menjadi pusat perhatian siswa-siswi madrasah di pintu gerbang madrasah mereka. Sejak tadi dia mengibas-ibaskan uang pecahan 100 ribu rupiah di atas kepalanya, dan berkata, “Aku ingin bercerita dengan anak-anakku siswa-siswi madrasah ini! Siapakah yang ingin dengan uang ini….?”
Banyak yang mengacungkan tangannya pertanda menginginkannya. “Tunggu dulu ya … !” katanya, sambil menggulung-gulung uang tersebut dan menjatuhkannya ke tanah, kemudian meremas-meremas uang tersebut sehingga lusuh dan kumal. Lelaki itu kembali bertanya, “Masih adakah yang ingin memiliki uang ini….?” Banyak tangan yang mengacung.
Sesaat kemudian, lelaki itu mengeluarkan uang pecahan 100 ribu yang berbeda dengan uang yang beredar di pasar. Bagian depannya kelihatan asli, tetapi pada bagian belakangnya bergambar seekor babi. “Siapakah yang mau dengan ini …..!” tanya lelaki itu dengan suara yang nyaring. Wow … tak ada tangan yang teracung, bahkan terdengar suara di antara siswa madrasah itu, “Huh … siapa yang mau dengan uang palsu….!”. Sebagian yang lain berkata, “Tak usah ye … kami tahu koq yang asli dan yang palsu…!”
Lelaki itu berkata, “Baiklah … jika tak ada yang mau dengan uang yang kamu katakan palsu tadi, sekarang saya tukar uang ini dengan yang terpotong….!” katanya sambil memperlihatkan uang pecahan 100 ribu lainnya yang terpotong dua. Potongan pertama hanya memperlihatkan uang yang angkanya hanya 00000 saja. Potongan kedua angka satunya. Kemudian bertanya lagi “Siapakah yang mau dengan uang ini…?”
Tangan para siswa madrasah itu kembali banyak teracung. “Ya ….!” Kata lelaki itu. “Saya tahu akan ada yang berminat terhadap kedua uang yang terpotong ini karena masih bisa disambung dan ditukarkan ke Bank terdekat dengan nilai yang tak berkurang harganya….!”
Lelaki itu menatap ke sekeliling, kemudian berhenti pada sekumpulan siswi-siswi yang berjilbab dan berkata, “Saya tahu kamu juga mau … karena uang itu bukan palsu. Uang yang jatuh ke tanah tadi, meskipun kelihatan lusuh dan sedikit kotor karena terinjak kaki, ternyata harganya tetap 100 ribu rupiah karena uang itu bukan uang palsu. 
Nah anak-anakku ….! tak seorang pun di antara kalian yang mau dengan yang palsu. Saya berharap agar prinsip itu kalian pegang selamanya, baik ketika belajar di madrasah ini maupun ketika di rumah atau di tempat lain….! “Saya suka kalian datang ke perguruan Islam ini dengan menggunakan jilbab menutup aurat sesuai syari’at yang dianjurkan Nabi saw. Allah swt suka itu … Nabi saw suka itu … semua orang baik-baik suka itu. Tapi Allah swt pasti tak suka dengan jilbab yang palsu, Nabi saw tak suka dengan Jilbab yang palsu. Orang baik-baik tak suka dengan jilbab yang palsu….!” Kemudian lelaki itu diam sejenak.
Lelaki bersurban itu, kembali berkata, “Tahukah kamu apa yang dimaksud berjilbab palsu …?” Lelaki itu kembali mengeluarkan uang palsu tadi dan membalik-balikkan uang itu antara depan dan belakang. “Ya …. Persis seperti ini…., ketika datang ke madrasah, ke perguruan Islam atau ke pengajian kamu datang memakai jilbab…!, tetapi ketika pergi ke tempat lain, ke pasar, ke tempat keramaian lainnya kamu sudah tidak berjilbab yang sesuai syari’ah lagi lagi.Banyak yang meniru pakaian artis….. Bahkan ada sebagian yang suka mempertontonkan auratnya. Itulah jilbab yang palsu anak-anakku…!“ katanya sambil tersenyum.
Belum sempat lelaki itu melanjutkan pembicaraannya, lonceng masuk terdengar nyaring. Siswa-siswi madrasah itu berlarian meninggalkan lelaki itu dengan kesan yang berbeda-beda. Bagaimana kesan Anda.?….

Dikutip berdasarkan referensi, Prof. Dr. Dja’far Siddiq, MA.

Tinggalkan komentar