Tak Ada Anak Yang Bodoh: Jangan Ukur Dengan Tolak Ukurmu

Ditulis oleh
Diperbaharui 17 September 2020

Dua bulan sudah aku mengajarkan anak-anak itu mengaji.

Dulu, sewaktu pertama kali aku datang, mereka terlihat senang.

Ah, mungkin itu karena baru kenal.

Biasanya, orang yang baru berkenalan itu memang merasa senang dan tidak ada perasaan jelek kepada lawan kenalannya.

Ya, mungkin karena kopiah ku waktu itu yang hitam dan bersih. Sebulan kulalui, anak-anak itu tak kunjung paham.

“A, Ba, Ta, Tsa”.

Akupun mulai bingung.

Tak kupikirkan yang salah siapa, dan yang benar siapa. Berulang kali aku berpikir, bagaimana caranya agar mereka dapat mengerti dengan apa yang kuajarkan. Siang malam aku tak tidur memikirkannya. Rasanya, ingin aku bertanya kepada teman sejawadku. Tapi, ah tak mungkin itu kulakukan. Pasti aku terlihat bodoh didepannya. Tidak, tidak mungkin kulakukan itu. Kucoba cari cara lain saja. Buah pun jatuh dari pohonnya. Ya, waktu itu aku dapat telepon dari teman sejawadku yang kebetulan dia juga mengajar di desanya. Mengajar di bidang yang sama sepertiku, mengajari anak-anak mengaji. Kucoba tanya-tanya tentang bagaimana cara dia mengajarkan huruf alif-alif itu kepada anak didiknya. Alhamdulillah, ternyata yang kulakukan sama dengan apa yang dilakukannya. Yang kurasakan, sama juga seperti apa yang dirasakannya. Kesulitan untuk mengajarkannya. Sedikit banyak teori-teori yang dulu pernah dipelajari di kampus sewaktu kuliah, itu memang masih ku ingat. Tapi, aku bingung untuk menerapkannya dan memilih strategi yang cocok untuk itu. Rupanya, strategi itu hanya sebagai teori. Begitu pikirku waktu itu. Dua bulan ku lalui, sesuatu yang baik ku dengar. Anak yang kuajari itu perlahan sudah ada perubahan. Dia sudah bisa menangkap dan mengingat apa yang ku bilang. Anak muridku yang kedua ini rupanya punya selera yang berbeda. Ternyata dia pengikut semboyan “biar lambat asal selamat”. Selesai mengaji, aku bertanya kepadanya. “Nak, apa yang dikatakan gurumu di sekolah tentang mengaji Iqro’ mu?”. Syahdu rasa hatiku ketika dia bilang “kata bu guru, Keykey sudah bisa muallim, teruskan mengaji dirumah”. Alhamdulillah, rupanya mengajar tak perlu dipaksa, tak perlu monoton. Santai, itu yang jarang dijumpai anak. Memang, aku mengajar sambil santai. Kadang, kuceritakan sedikit-sedikit yang ku tahu tentang kisah-kisah nabi, dan kisah menarik lainnya. Tak perduli soal pelajaran yang kuberikan, yang penting anak itu mendapatkan ketenangan. Dengan ini, dia suka mengaji, suka dengan cara gurunya. Nantinya, dia merindukan kehadiran gurunya. Oleh sebab itu, jangan berpikir bahwa anak itu bodoh jika kamu mengukur dengan waktumu, mengukur dengan dirimu. Karena setiap anak itu punya rasa yang berbeda, punya daya serap yang berbeda. Teruslah mengajar, jangan pernah bosan. Ajarkan berulang-ulang. Manipulasi keadaan saat mengajar dengan keadaan yang menyenangkan bagi anak. Tidak monoton dan tidak membosankan. Mencerdaskan manusia, itu menyenangkan…

Tinggalkan komentar