SKEMA MANAJEMEN DIRI

Ditulis oleh
Diperbaharui 13 September 2018
SKEMA%2BMANAJEMEN%2BDIRII
Skema manajemen diri yang dimaksudkan dapat digambarkan pada gambar berikut ini:
SKEMA%2BMANAJEMEN%2BDIRI
Akhlak yang baik menurut agama Islam mengandung tiga komponen atau tiga landasan pokok yang harus dimiliki untuk menjalankan manajemen yang berdasarkan syariah Islam:
1. Tauhid
Dalam menjalankan manajemen yang islami  seseorang harus memiliki Aqidah Yang Baik dan benar sesuai dengan perintah Allah. Orang tersebut juga harus memilik iman atau percaya kepada Allah bahwa Allah yang selalu memberikan yang terbaik kepada dirinya dan Allah juga selalu melihat apa yang kita kerjakan, maka dari itu dalam manajemen islam kejujuran juga diutamakan 
2. Syariah
Syariah dibutuhkan juga sebagai landasanpokok karena seorang pembisnis yang sukses juga harus memiliki syariah atau tau mengenai syariah islam yang baik dan benar. Maka disini seorang pebisnis dalam manajemen syariah bukan hanya harus menguasai ilmu ekonomi tetapi   juga ilmu agama.
3. Akhlak
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada umatnya dengan jujur, sabar dan tidak senaknya kepada para pesuruh atau pegawai. Maka dari itu mengapa landasan dasar manajemen bisnis syariah adalah akhlak karena dalam syariah kita harus meneladani akhlak-akhlak nabi dalam berbisnis.
Ketiga landasan manajemen islam  diatas semoga dapat menjadi landasan kita dalam menjalankanatau mencari nafka dalam duniamanajemen. Manajemen dalam  organisasi merupakan  suatu proses aktivitas penentuan dan pencapaian tujuan bisnis melalui pelaksanaan empat fungsi dasar, yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling dalam penggunaan sumber daya organisasi. Oleh karena itu, aplikasi manajemen organisasi perusahaan hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi. Oleh karena itu, aplikasi manajemen organisasi perusahaan hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi perusahaan yang bersangkutan.
Dalam konteks di atas, Islam menggariskan hakikat amal perbuatan manusia harus berorientasi pada pencapaian ridha Allah. Hal ini seperti dinyatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, dalam menafsirkan surat Al Muluk ayat 2: “Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dialah Maha Perkasa dan Maha Pengampun.” Ayat ini mensyaratkan dipenuhinya dua syarat sekaligus, yaitu niat yang ikhlas dan cara yang harus sesuai dengan syariat Islam. Bila perbuatan manusia memenuhi dua syarat itu sekaligus, maka amal itu tergolong baik (ahsanul amal), yaitu amal terbaik di sisi Allah. Dengan demikian, keberadaan manajemen organisasi harus dipandang pula sebagai suatu sarana untuk memudahkan implementasi Islam dalam kegiatan organisasi tersebut.
Implementasi nilai nilai Islam berwujud pada difungsikannya Islam sebagai kaidah berfikir dan kaidah amal (tolak ukur perbuatan) dalam seluruh kegiatan organisasi. Nilai nilai Islam inilah sesungguhnya yang menjadi nilai-nilai utama organisasi. Dalam implementasi selanjutnya, nilai-nilai Islam ini akan menjadi payung strategis hingga taktis seluruh aktivitas organisasi sebagai kaidah berfikir, aqidah, dan syariah difungsikan sebagai asas atau landasan pola pikikr dan beraktivitas, sedangkan kaidah amal, syariah difungsikan sebagai tolak ukur kegiatan organisasi.
Tolak ukur syariah digunakan untuk membedakan aktivitas yang halal dan haram. Hanya kegiatan yang halal saja yang dilakukan oleh seorang Muslim. Sementara yang haram akan ditinggalkan semata-mata untuk menggapai keridhaan Allah. Atas dasar nilan-nilai utama itu pula   tolak ukur strategis bagi aktivitas perusahaan adalah syariah Islam itu sendiri. Aktivitas perusahaan apa pun bentuknya, pada hakikatnya adalah aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang akan selalu terikat dengan syariah. Oleh karena itu, syariah adalah aturan yang diturunkan Allah untuk manusia melalui lisan para Rasul-Nya.
Syariah tersebut harus menjadi pedoman dalam setiap aktivitas manusia, termasuk dalam aktivitas manajemen. Banyak sekali ayat Al Quran yang menegaskan hal tersebut.
“Kemudian kami jadikan bagi kamu syariah, maka ikutilah syariah itu, jangan ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS. al-Jatsiyah: 18).
“Maka demi Rabbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa’: 65).
“Apa saja yang dibawa dan diperintahkan oleh Rasul (berupa syariah, maka ambillah) dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah” (QS. al-Hasyar: 7).
Dengan demikian, orang yang mendambakan keselamatan hidup yang hakiki, akan senantiasa terikat dengan dengan aturan syariah tersebut. Oleh karena syariah mengikat setiap pelaku keuangan syariah, maka aktivitas perusahaan yang dilakukan tidak boleh lepas dari koridor syariah.
Konsep perdagangan yang dibicarakan Al Quran pada umumnya bersifat prinsip prinsip yang menjadi pedoman dalam perdagangan sepanjang masa, sesuai dengan karakter keabadian Al Quran. Dengan demikian Al Quran tidak menjelaskan konsep perdagangan secara rinci. Seandainya Al Quran berbicara secara rinci dan detail, ia akan sulit untuk menjawab berbagai persoalan perdagangan yang senantiasa berubah dan berkembang dalam menghadapi tantangan zaman.

Tinggalkan komentar