SEDIH ITU SIFAT GURU? AH, TAK PENTINGLAH.

Ditulis oleh
Diperbaharui 12 September 2018
SEDIH%2BITU%2BSIFAT%2BGURU AH%2BTAK%2BPENTINGLAH

Sore itu, aku mengajar mengaji. Orang dulu menyebutnya sekolah Arab. Waktu itu jam masuk pelajaran dimulai jam 15.00 wib, tepatnya jam 3 sore. Aku masuk di kelas paling atas. Ku mulai kelas itu dengan tenang dan penuh semangat. Mereka mengenalku dengan guru yang sabar. Mungkin benar, aku memang tak membenarkan emosional dalam kelas. Ku upayakan untuk selalu mengontrol emosiku saat berhadapan dengan siswa yang bagaimanapun itu. Tak bisa dipungkiri, mulai dari yang paling baik, hingga yang paling kurang perhatian  juga ada di dalam kelas, dan itu biasa kurasa. Ku mulailah pelajaran hari itu dengan pelajaran Akhlak.

Hari demi hari, kuperhatikan jarang sekali tulisan-tulisan arab melayu di lingkungan pendidikan. Khawatirku bila corak Islam itu hilang. Maka dari itu, kupikir ini bagus untuk kutugaskan mereka dengan menulis tulisan arab melayu yang ada di buku itu. Supaya mereka kenal dengan arab melayu, mereka lah yang diharapkan sebagai orang di masa depan yang mengembangkan pendidikan Islam.
Berjalanlah pembelajaran hingga Shalat Ashar. Seperti biasa, mereka Shalat Ashar berjamaah di Musollah sekolah. Guru-guru kulihat membimbing mereka mulai dari mengambil wudhu, hingga selesai pelaksanaan Shalat berjamaah itu. Selanjutnya, istirahat dan masuk ke kelas untuk memulai pelajaran lagi.
…….
15 menit menjelang pulang, mereka bersiap untuk pulang. Memasukkan semua peralatan tulisnya di dalam tas dan lipat tangan di meja.
“Abi, kuis aja bi. Siapa yang bisa jawab, boleh pulang.” kata salah seorang siswi di kelas itu, dan banyak siswa yang mendukung masukkannya itu.
“Oke. Kita kuis.” kataku. Kupikir itu bagus. Dari situ, minat mereka bisa terlihat untuk belajar.
Kumulailah kuis waktu itu.
Beberapa orang berhasil menjawab dan pulang. Di pertengahan, tinggal sebagian orang lagi yang belum pulang karena belum berhasil menjawab pertanyaanku. Kulihat dia dari tadi lesu saja wajahnya. Dari pertanyaan yang kuberikan, dia tak mau mengangkat tangannya. Sambil memberikan pertanyaan, aku berpikir: Kenapa anak ini? Apa masalahnya?
Sedikit demi sedikit mulai berpulangan siswa yang ada di kelas. Tinggallah 7 orang lagi. Ku beri pertanyaan, tetap saja dia tak mau mengangkat tangannya. Ku lihat wajahnya yang lesu itu.
…..
Aku sadar, bahwa dia tak bisa berpikir cepat untuk menjawab soal-soal yang ku berikan. Sungguh, aku menyesal karena menyiksanya dan membuatnya malu dengan kawan-kawannya yang lain. Rasaku sesak, tak tega aku menatap wajahnya. Menangis dalam hati. Dalam hatiku berdoa, semoga kelak kau menjadi orang yang sukses dan pintar. Lalu ku beri pertanyaan yang sebenarnya ku tujukan khusus untuk dirinya.
“Sebutkan lafadz surah Al-Fatihah Ayat 1” tanyaku.
Lalu dia mengacungkan tangannya, dan menjawabnya dengan benar. Aku senyum dan merasa senang dalam hati. Ku tunjuk dirinya untuk pulang dan menyalamku. Dalam sentuhan tangannya saat menyalamku, ku elus kepalanya.

Ini bukan sekedar perasaan, ini melebihi kekasih, ini melebihi pacar, ini melebihi teman. Aku bertanggung jawab untuk membelajarkan mereka dengan Islam. Iya, mengajari anak-anak mengaji itu melebihi dari hubungan percintaan. Galau aku kalau tak mengajar mereka dengan baik.

Ku kendarai keretaku berjalan sedikit masih di lingkungan sekolah. Ku tengo dia lemas dan belum di jemput. Ku dekati sambil mengendarai kereta, dan ku tanya: “Di jemput sama siapa?”
“Sama atok bi, tapi belum datang.” Kataya.
“Kalau tau nomor telponnya, telpon aja pakai nomor abi.” Kataku sambil menyerahkan HP ku untuk dipinnjamnya menelpon Atoknya.
Setelah semua selesai, akupun pulang dengan rasa bahagia bercampur sedih. Semoga semangatku tak hilang sampai disini. Aku mau mengajar mengaji, mengajari anak-anak tentang Islam.

Tinggalkan komentar