Saya memilih golput — Abang jangan marah ya

Dja’far pakcik
Dosen Tetap UIN SU Medan

Baru saja mau istirahat sejenak, tiba-tiba saja dia masuk.

“Makan dulu lah bang…! Tuh ada nasi umat, airnya dalam plastik. Kalau mau pakai piring, ada piring plastik bang …. Maklumlah” Katanya agak sedikit memelas. Sama sekali tak kurespon dengan kata-kata pernyataannya itu, kecuali dengan senyuman malam 1f6421f642 1f642

“Aku mau istirahat dulu, karena sesi kedua ku kan pukul 10 malam sampai sahur bersama. Pinomat sejam sajalah aku melempangkan badan yang mulai ringkih ini….!” Kataku sambil membuka kopiah.

“Tadi pada sesi pertama, abang semangat betul mengatakan kepada peserta, ‘kita tak boleh golput’, ‘kita tak boleh golput’ ‘jangan biarkan kotak TPS itu hanya dikelilingi pemiras, pemeras, dan para pendukung LGBT’
“Apakah salah yang kukatakan itu….? Kataku serius.
“Begini bang….” Katanya dengan suara hilang-hilang timbul.
“Jangan marah ya bang, kalau kami akan memilih golput. Karena golput itu golongan putih, kami tak mau memilih yang warna warni. Lebih baiklah kami memilih yang sewarna, sama-sama putih… Di sana ada kesucian iman bersama.!”


Aku terdiam, maksud terdalam dari pernyataannya itu dapat kupahami. Tetapi karena sudah agak ngantuk, kubaringkan tubuhku. Dia keluar menutup pintu perlahan-lahan.

Tinggalkan komentar

Copy link