Rindu Anak Pada Orangtuanya, Doa Tulus Pengganti Ziarah

—Menjelang tidur, Ahmet teringat pada pohon besar di desanya. Kulitnya tebal, berdahan besar, dan berdaun rimbun. Ahmet sering bermain di bawahnya. Dia pernah membayangkan pohon itu berkata ramah kepadanya,
“Ayo panjatlah aku, bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau, juga daunku yang berlimpah.” Ahmet pun memanjat pohon itu, mematahkan beberapa ranting, mengambil dedaunan, dan membuat rumah rahasia yang tinggi di pohon itu. Meski hal itu menyakiti pohon, namun pohon itu bahagia berkorban sedikit untuk melihat Ahmed kecil mendapatkan begitu banyak kesenangan. Selama hari-hari yang panjang, anak itu akan bermain di dalam rumah pohon. Pohon itu puas.
—Ketika Ahmet tumbuh lebih dewasa, dia sudah sekolah ke kota dan berhenti bermain di pohon itu. Pohon itu ikhlas meskipun hatinya sedih, rantingnya merunduk dan deadunannya kehilangan kilaunya. Tetapi selang beberapa tahun, Ahmet yang kini remaja itu kembali. Pohon itu kegirangan melihatnya lagi. Pemuda itu seakan mendengar pohon itu berkata, “Ayo panjatlah aku lagi. Rumah pohon lamamu masih di sini. Aku merindukanmu.”
“Kini aku terlalu tua untuk bermain rumah pohon,’ kata hati Ahmed. “Aku ingin kuliah tapi aku aku tak memiliki biaya untuk kuliah.”
“Aku gembira mendengarnya!” kata pohon itu. “Kembalilah seminggu lagi. Aku akan mengeluarkan buah. Silakan panen semua buahku dan juallah untuk membayar biaya kuliahmu…!”
—Ahmed kembali tujuh hari kemudian. Pohon itu dipenuhi buah ranum. Dia mengambil semuanya sampai buah yang terkahir, menjualnya, dan cukup untuk biaya kuliah satu tahun. Pohon itu sangat bahagia. Bahkan selama empat tahun berikutnya, Ahmet mengambil setiap buahnya dan menjualnya untuk memenuhi biaya kuliahnya. Pohon itu gembira. Pohon itu bahkan kelihatannya berusaha lebih keras tiap tahunnya untuk menghasilkan lebih banyak lagi untuk Ahmet sang kesayangannya, meskipun hal itu membuat pohon itu selalu kelelahan dan semakin sering sakit.
—Ketika Ahmet lulus dari Perguruan Tinggi, dia sangat jarang datang. Apalagi sebagai guru honorer yang bertugas pada beberapa sekolah dia harus disiplin dalam bertugas. Pohon itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Pohon itu sedih lagi.
—Beberapa tahun kemudian, Ahmet berkesempatan pulang ke desa. Pohon itu berkata, “Mengapa engkau datang sendiri ….? Teman-temanmu di desa ini sudah memiliki pendamping hidup bahkan sudah ada yang memiliki anak. Ahmet tak mampu menjawabnya kecuali menundukkan kepala. Meskipun pohon sudah tak segagah dulu lagi bahkan tak berbuah lagi, kembali berkata,
“Aku tahu, kau sudah bekerja. Tapi gajimu belum cukup untuk berumah tangga. Aku masih bisa membantumu. “kembalilah besok dengan gergaji. Ambil dahan tebalku. Itu bisa untuk membuat papan lantai dan tiang yang kuat. Bahkan ada cukup kayu untuk membuat dindingnya. Gunakan dahan kecil dan daun besar untuk atapnya. Ada banyak.”
—Demikianlah, hari berikutnya, pemuda itu mengambil seluruh dahan dan daun untuk membuat rumahnya, menyisakan hanya batangnya. Meski itu melukai pohon itu dengan parah, pohon itu bahagia membuat pengorbanan besar untuk seseorang yang dicintainya.
—Selama bertahun-tahun, Ahmed tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk kembali ke desa. Paling-paling hanya setahun sekali. Pohon itu lebih banyak bergantung pada kenangan bahagianya untuk mempertahankan hidupnya, sampai kemudian batas usianya berakhir dan pohon itu mati.
—Bertahun-tahun kemudian, Ahmet telah menjadi orangtua, memiliki kesempatan untuk berziarah mengunjungi tempat pohon yang dahulu itu pernah berdiri, tempat ia membangun rumah pohon semasa kecil, yang selalu begitu dermawan kepadanya. Tak ada yang tersisa kecuali akar-akar bekas tempat tumbuhnya dulu. Ahmed yang kini menjadi orang tua itu membaringkan kepalanya sejenak di atas akar-akar pohon yang sudah melapuk itu. Akar itu jauh lebih nyaman daripada bantal bulu. Ia teringat dengan berurai air mata bagaimana pohon itu telah menolongnya, tanpa bertanya, tiap kali ia membutuhkan pertolongan. Bagaimana pohon itu mengorbankan segalanya untuknya, dan bahagia melakukannya setiap saat. Ia pun tertidur.
—Ketika dia terbangun dari mimpi itu, ia menyadari bahwa pohon itu adalah orangtuanya. “Ah … sudah dua tahun aku tak berziarah ke kuburan orangtuaku, betapa sombongnya aku…!” pikirnya. Ia teringat pula perkataan gurunya, “Ziarah terbaik seorang anak pada orangtuanya, adalah doa-doa tulusnya….!” BESOK RAMADHAN SUDAH TIBA, hari-hari dan malam-malamnya tempat semua doa akan dikabulkan Allah swt.
—Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ِ (Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka [HR. Ahmad 2: 305]) Imam Nawawi berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” [Al-Majmu’, 6: 273]
—–Dikutip berdasarkan referensi: Prof. Dr. Ja’far Siddiq
13307373 1568614293439506 6985222720764612824 n

Tinggalkan komentar

Copy link