“Punitur, ne Peccatum” bukan “Punitur, Quia Peccatum est”

Ditulis oleh
Diperbaharui 29 Januari 2018

945572 1518521298448806 5839341945193312048 n

—Sejak tanggal 4 s/d 5 Januari 2016, sudah 4 lokal aku memberikan tes tertulis pada mahasiswa jenjang S1 semester I. Semua lancar. dan semua mahasiswa dengan tekun melakukan tugas yang kuberikan. Aku tak terlalu menuntut daya ingat/pemahaman mereka atas materi yang kuajukan sebagaimana dituntut oleh C1, C2, dan C3. Aku hanya menuntut kemampuan mereka melakukan analisis (C4), evaluasi (C5), dan kreatifitas (C6). Itu sebabnya tak seorang pun mahasiswa yang mencuri isi catatannya atau pun materi yang tertulis dalam buku teks. Aku senang itu. Semakin tinggi kreatifitas mahasiswa semakin tinggi penghargaanku kepada mereka.

—Tetapi sangat berbeda pada ujian kemarin tanggal 6 Januari 2016. Meskipun masih semester I, ada di antara mereka yang berusaha membuka buku catatannya. Tentu saja kuberikan peringatan. Tetapi peringatanku dianggapnya bagaikan angin lalu. Dengan sembunyi-sembunyi, ‘tapi aku tahu’, tanpa perasaan risih apalagi berdosa, mahasiswaku tadi meminjam lembar jawaban teman sebelahnya. Ah … 

—Wow … baru saja menjadi mahasiswa semester I, koq sudah berani ya? Tega kali kau nak ee 1f642 Bagaimana nanti sikap dan perilakumu pada semester-semester selanjutnya. Aku tak mau terjadinya isyarat yang disabdakan Nabi saw, “su`u al-khuluqi tu’di”. Dengan berat hati kuumumkan kepada semua peserta ujian, bahwa ujian kedua temannya “kubatalkan”. Aku menyayanginya bagaikan anak kandungku sendiri. Usianya masih belia, dan masih memiliki masa depan yang gemilang. 
—Kuberikan hukuman padanya bukan karena dia telah bersalah (Punitur, ne Peccatum), tetapi aku tak menginginkan dia melakukan kesalahan lagi (Punitur, Quia Peccatum est).

Tinggalkan komentar