Pengertian Manajemen Mutu Pendidikan

Ditulis oleh
Diperbaharui 28 November 2018


MANAJEMEN%2BMUTU%2BPENDIDIKAN

Pengertian Manajemen Mutu Pendidikan. Mutu dapat di defenisikan sesuai dengan kebutuhan orang yang mendefinisikannya. Mutu  memiliki banyak  kriteria  dan  sangat  tergantung  pada  konteksnya.  Maka dari itu, definisi  mutu  juga didasarkan pada sudut pandangan yang berbeda-beda tergantung pada aspek kebutuhan.
Mutu mempunyai arti kualitas, derajat, dan tingkat (Partanto, 2001: 510).  Dalam bahasa Inggris, mutu diistilahkan dengan “quality” (Salim, 1987: 550). Sedangkan dalam bahasa Arab mutu disebut dengan istilah “juudah” (Ali, 2003: 1043). Secara esensial istilah mutu menunjukkan kepada sesuatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada barang dan atau kinerjanya (Komariah, 2008).
Menurut Suryosubroto, konsep mutu mengandung pengertian makna derajat keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa (Suryosubroto, 2004). Tidak berbeda dengan para pemikit mutu, seperti Crosby, Deming, Juran, dan Feigenbaum yang dikutip dalam Sallis (2008) mempersepsikan mutu sebagai :
  1. Conformance to  requirement,  artinya  mutu  adalah  kondisi  barang  atau  jasa yang sesuai dengan persyaratan (Crosby).(Sallis, 2008: 115),
  2. The predicable degree of uniformity dependability at low cost and suited to market.  Artinya, mutu adalah pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta tingkat kesepahaman tentang harga yang murah sesuai dengan kebutuhan pasar dibanding dengan yang lain pada kondisi barang atau jasa yang sama (Deming). (Sallis, 2008:97),
  3. Fitness for use atau mutu sebagai kecocokan untuk digunakan (Juran). (Sallis, 2008: 12),
  4. Full customer satisfication atau kepuasan pelanggan sepenuhnya. Suatu poduk di anggap bermutu apabila dapat memberikan kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu sesuai dengan harapan konsumen atau produk yang dihasilkan (Feigenbaum) (Hadis, dkk, 2010: 84).
Sedangkan menurut Garvin (1994:23), ia mengidentifikasikan mutu lebih terinci ke dalam lima pendekatan perspektif mutu yaitu:
  1. Transcendental Approach, yakni sesuatu yang dapat dirasakan tetapi sulit untuk didefinisikan dan dioperasionalkan maupun diukur. Perspektif ini biasanya  diterapkan pada karya seni,
  2. Product Based Approach, yakni karakteristik atau atribut yang dapat diukur. Perbedaan mutu mencerminkan adanya perbedaan atribut yang dimiliki produk secara  obyektif,
  3. User  Based  Approach, yakni mutu yang didasarkan pada pemikiran   bahwa  mutu tergantung pada orang yang memandangnya dan produk yang paling  memuaskan preferensi seseorang atau cocok  dengan selera (fitnes for used);
  4. Manufacturing Based Approach, yakni mutu sebagai sesuatu yang sesuai  dengan persyaratannya (conformance quality). Pendekatan ini berfokus pada kesesuaian yang diterpakan  perusahaan  secara  internal,  dan,
  5. Value Based Approach, yakni pandangan mutu dari segi nilai dan harga. Mutu didefinisikan sebagai affordable excellence. Karena itu kualitas dalam pandangan ini  bersifat relatif dan produk yang berkualitas belum tentu produk yang bernilai.

Dari beberapa definisi mutu di atas, maka tidak sulit untuk memdefinisikan apa itu manajemen mutu. Banyak persepsi mengenai manajemen mutu dari kalangan pakar teori, salah satunya menurut Uhar Saputra, manajemen mutu merupakan aktifitas manajemen untuk mengelola mutu (Uhar Suharsaputra, 2010: 233). 

Senada dengan hal di atas, Stephan Uselac (Tjiptono, 2003: 3), yang dimaksud dengan mutu bukan hanya produk dan jasa saja, namun juga mencakup proses, lingkungan, dan manusia. Jadi, mutu dapat di defenisikan sebagai suatu kondisi yang berhubungan dengan produk, jasa, proses, lingkungan, dan manusia untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan guna memenuhi kebutuhan pelanggan.
Adapun korelasi mutu dengan pendidikan menurut Dzaujak Ahmad (1996: 8), bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/ standar yang berlaku.

______________
Referensi:

Pius Partanto dan Dahlan Albari. (2001). Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arloka
Peter Salim. (1987). The Contemporary English Indonesia Dictionary. Jakarta: Medern English Press. 
Attabik Ali. (2003). Kamus Inggris-Indonesia-Arab. Yogyakarta: Mukti Karya Grafika.
Aan Komariah dan Cepi Triatna. (2008). Visionary Leadership
B.Suryosubroto. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rieneka Cipta.
Sallis  Edward.  (2008), Total  Quality  Management  in  Education. Kogan  Page Limited 120 Pentonville Road London NI 9 JN.
Garvin. (1994). Quality on Line. Harvad Business Review.
Abdul Hadis dan Nurhayati. (2010). Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Uhar Suharsaputra. (2010). Administrasi Pendidikan. Bandung : Refika Aditama.
Edward Sallis.  Alih Bahasa Ali Riyadi, Ahmad & Fahrurozi. (2006). Total Quality Management in Education: Manajemen Mutu Pendidikan, Yogyakarta: Irchisod.
Dzaujak Ahmad. (1996). Penunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta; Depdikbud.
F. Tjiptono dan A. Diana, (2003). Total Quality Management (TQM) edisi revisi. Yogyakarta: Andi Offset.

Tinggalkan komentar