PENDIDIKAN ISLAM DAN TEKNOLOGI INFORMASI Oleh: Reza Noprial Lubis, S. Pd. I

PENDAHULUAN

Perkembangan era globalisasi mengakibatkan berkembanganya ilmu dan teknologi secara cepat dan pesat, khususnya menyangkut teknologi informasi. Akibatnya terjadi ledakan informasi yang merupakan pertanda dari peluang dan tantangan yang akan dihadapi manusia di masa depan. Walau demikian, perlu kita sadari meskipun kemajuan teknologi tersebut banyak memberikan manfaat, namun tidak banyak pula dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Dalam hal inilah diperlukan pola pendidikan yang mampu mengintegrasikannya secara proporsional.

Pendidikan Islam dengan landasan ajaran Alquran dan hadits, secara prinsip telah memberikan motivasi yang cukup tinggi agar umatnya maju dan mampu menjadi khalifah di muka bumi, agar tercapai kemakmuran yang sesungguhnya. Dengan demikian, pendidikan hendaknya benar-benar responsif dengan perubahan dan tuntutan zaman, terutama terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi-informasi, sekaligus dapat menjadi penguat pendidikan Islam yang berbasis teknologi, khususnya teknologi komunikasi-informasi agar dapat benar-benar memiliki manfaat yang besar bagi masyakakat dunia.

Tidak dapat di pungkiri bahwa besarnya tuntutan dari masyarakat akan kesiapan unsur pendidikan atau secara khusus pendidikan Islam, maka perlu dicermati persoalan yang dihadapi pendidikan Islam sampai saat ini. Hal ini tentu saja menuntut pendidikan Islam untuk selalu responsif menyikapi perkembangan tersebut,sehingga diharapkan pendidikan Islam dapat memberikan kontribusi besar dalam mencetak sumber daya manusia yang siap berkompetisi di tengah beratny persaingan global dengan bekal teknologi.

Usaha pembaruan pendidikan Islam, terutama dalam menyikapi tuntutan realitas kehidupan manusia yang terus berkembang adalah suatu keniscayaan. Hal ini terkait erat dengan kondisi pendidikan Islam yang masih cenderung berorientasi pada masa lalu, atau kurang berorientasi kepada masa depan. Selain itu, banyaknya persoalan yang masih menyelimuti pendidikan Islam, serta besarnya tuntutan atau tantangan yang dihadapi oleh umat Islam (termasuk pendidikan Islam), seiring dengan pesatnya kemajuan dan perkembangan zaman.

PEMBAHASAN

DINAMIKA GLOBALISASI DAN KONDISI PENDIDIKAN ISLAM

Dewasa ini, dunia telah berada dalam suatu era yang disebut dengan globalisasi. Istilah globalisasi berasal dari kata global, yang dalam bahasa Inggris berarti embracing thewhole of a group of items (merangkul keseluruhan kelompok yang ada) (Abdullah Idi dan Toto Suharto, 2006: 102). Menurut Supriyoko, dalam globalisasi terdapat saling ketergantungan (interdependency) pada masalah-masalah sosial, politik, dan kultural antarbangsa. Ini artinya, perkembangan perikehidupan sosial, kultural, dan politik suatu bangsa akan saling mengait dengan bangsa lainnya (Abdullah Idi dan Toto Suharto, 2006: 103). Dengan terbukanya sekat-sekat hubungan antar negara dalam berbagai dimensi kehidupan, pada gilirannya akan memberikan pengaruh yang besar pada setiap aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikanya.

Adanya tuntutan yang begitu besar dari masyarakat informasi dan era globalisasi, apabila dikaitkan dengan kesiapan unsur pendidikan atau secara khusus pendidikan Islam, maka perlu dicermati persoalan yang dihadapi pendidikan Islam sampai saat ini. Kondisi pendidikan Islam yang pada tataran prakteknya masih mengalami kemandegan intelektual. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kelemahan-kelemahan dari pelaksanaan pendidikan Islam tersebut.

Di antara indikasi yang dapat dicermati adalah: 1) minimnya upaya pembaharuan, atau kalaupun ada masih kalah cepat dibandingkan dengan perubahan sosial, politik, dan kemajuan IPTEK; 2) praktik pendidikan Islam sejauh ini masih memelihara warisan lama, dan tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual; akibatnya, ilmu-ilmu yang dipelajari adalah ilmu-ilmu klasik, sementara ilmu-ilmu modern nyaris tak tersentuh; 3) model pembelajaran pendidikan Islam terlalu menekankan pada pendekatan intelektualisme-verbalistik dan menegasikan pentingnya interaksi edukatif dan komunikasi humanistik guru-murid. Pembelajarannya menjadi bersifat transfer of knowledge atau learning to know dengan perlakuan bahwa guru diidealisasikan sebagai pihak yang tahu, lebih dewasa, lebih berilmu, yang perlu mentransfer berbagai kelebihan tadi kepada murid yang dipandangnya sebagai pihak yang kurang tahu, kurang dewasa dan kurang berilmu; 4) orientasi pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan ‘abd atau hamba Allah dan tidak seimbang dengan pencapaian karakter manusia muslim selaku khalifah fi al-ardl. Konsekuensinya, pendidikan Islam berjalan ke arah peningkatan daya spiritual (teosentris) semata, sedang ilmu-ilmu yang dikembangkannya hanya sebatas religious sciences. Dengan kata lain, ilmu-ilmu yang dikembangkan hanya sebagai revealed knowledge(ilmu-ilmu yang diwahyukan), seperti tafsir, hadis, fiqh, dakwah, ushul al-din, syari’ah, adab, beserta semua cabangnya. Sedangkan ilmu-ilmu modern yang termasuk dalam aquired knowledge(ilmu-ilmu yang diperoleh), seperti ilmu-ilmu kealaman, sosial, dan humaniora, bisa dikatakan dikesampingkan, atau kalau dikembangkan pada akhirnya terjadi dikotomi keilmuan, antara ilmu agama-umum, iman-ilmu, duniawi-ukhrawi,material-spiritual, dan lain-lain (Assegaf, 2004: 8-9).

Dengan keempat persoalan yang menyelimuti pendidikan Islam di atas, dalam kaitannya dengan era globalisasi dengan salah satu kecenderungannya adalah kekuatan teknologi informasi dan komunikasi, maka sangat perlu untuk dibangun konsep pendidikan Islam yang searah dengan tuntutan tersebut, guna melahirkan para peserta didik yang lebih siap dengan perubahan.

PENDIDIKAN ISLAM DAN SISTEM TEKNOLOGI KOMUNIKASI

Di antara pembahasan pendidikan Islam yang sering diperbincangkan adalah persoalan pemaknaan pendidikan, tujuan, kurikulum dan metodologi. Terkait dengan persoalan pendidikan Islam dan teknologi komunikasi, maka hal yang perlu ditekankan dalam tulisan ini adalah berkenaan dengan rumusan konsep dan tujuan pendidikan Islam, sebagai substansi penting yang dapat mengarahkan orientasi pendidikan Islam itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini, banyak tawaran yang telah digagas oleh para pakar pendidikan, baik melalui konsep yang sederhana sampai pada rumusan yang ideal.

  1. Konsep Dan Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan (education) dalam sudut pandang manusia dapat dinyatakan sebagai proses sosialisasi, yakni untuk memasyarakatkan nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan. Sedangkan dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan proses perkembangan, yakni perkembangan potensi yang dimiliki secara maksimal dan diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan berguna untuk kehidupan manusia di masa akan dating (Saefudin, 1987: 125).

Secara khusus pendidikan Islam, Hasan Langgulung mendefinisikan pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlak, intelektual dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai, prinsip-prinsip dan teladan ideal dalam kehidupan yang bertujuan mempersiapkan kehidupan dunia akhirat (Langgulung, 1993: 62). Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan, atau secara khusus pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Kepribadian utama menurut ukuran Islam disebut kepribadian Muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam dan bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam (Marimba, 1986: 23). Ali Ashraf menyatakan bahwa pendidikan Islam seharusnya bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Tujuan akhir pendidikan Muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individu, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya (Ashraf, 1993: 20).

Dari beberapa definisi di atas dapatlah difahami bahwa hakikat pendidikan Islam pada prinsipnya adalah proses dan usaha membina serta mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan terbinanya seluruh potensi mereka secara sempurna diharapkan dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya sebagai khalifah di muka bumi. Atas dasar ini, M. Quraish Shihab sebagaimana dikutip Ahmad Arifi berpendapat, bahwa tujuan pendidikan Alquran (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah (Arifi, 2006: 213).

  1. Sistem Teknologi dan Informasi

Secara etimologi, istilah “teknologi” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Inggris technology (Mukti, 2001: 348). Dalam Kamus Ilmiah, teknologi berarti penerapan ilmu atau suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang praktis dan erat hubungannya dengan enjineringatau rekayasa, perindustrian dan sebagainya (Pena, 2006: 459-460). Menurut Leksikon sebagaimana dikutip Abdul Mukti, technologyadalah scientific study, yangmemiliki pengertian: 1) kajian, telaah, penelitian yang sistematis, dan ilmiah. Dengan kata lain, teknologi adalah “ilmu” dalam pengertiannya yang luas; 2) teknologi adalah mechanical arts, yakni alat-alat mekanis (mesin); 3) teknologi berarti applied science, yaitu ilmu-ilmu terapan atau ilmu-ilmu praktis; 4) teknologi berarti application of this to practical task(aplikasi dari ilmu dan alat-alat untuk kepentingan atau pekerjaan harian) (Mukti, 2001: 349).

Sedangkan sistem komunikasi, atau biasa juga disebut dengan sistem informasi, adalah suatu organisasiatau penyampaian berita, ketentuan atau pengetahuan dalam komunikan tertentu. Dengan kata lain, sistem komunikasi/informasi merupakan suatu proses penyebaran informasi sehingga informasi tersebut menjadi milik bersama. Oleh karena itu, sistem informasi dan komunikasi pada hakikatnya mengandung makna pendidikan, karena pemilikan bersama suatu norma, ketentuan berita atau pengetahuan tertentu hanya terjadi jika ada proses interaksi (Hawi, 2005: 147).

Dari keadaan ini, semua masyarakat suatu bangsa dengan bangsa lain menjadi satu, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Hal ini pada satu sisi ada baiknya dan banyak manfaatnya, yakni terjadinya pertukaran budaya, informasi, dan ilmu pengetahuan, sehingga dapat meningkatkan kualitas masing-masing. Namun di sisi lain, keterbukaan seperti ini juga memberikan dampak negatif yang tidak kecil, sehingga perlu kecermatan dalam menyeleksi informasi atau budaya.

  1. Hubungan Pendidikan Islam dan Teknologi Informasi

Pendidikan Islam yang memiliki tugas pokok menggali, menganalisis dan mengembangkan serta mengamalkan ajaran Islam yang bersumberkan Alquran dan al-Hadits, pada dasarnya telah cukup memperoleh bimbingan dan arahan dari kedua sumber pokok tersebut, yakni mulai dari proses memahami terhadap hal-hal yang bersifat metafisik sampai dengan kemampuan hidup yang rasionalistik, analitik, sintetik dan logik terhadap kekuatan alam sekitar. Hal ini menyadarkan manusia akan fungsinya sebagai “khalifah” di muka bumi yang akomodatif terhadap lingkungannya. Dengan demikian, pada dasarnya sumber ajaran Islam seperti Alquran, sebenarnya sangat fleksibel serta responsif terhadap tuntutan hidup manusia yang makin maju dan modern dalam segala bidang kehidupan, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang saat ini begitu pesat perkembangannya (Arifin, 2008: 45).

Dengan demikian, maka pendidikan Islam dengan sumber utamanya Alquran, dapat dikembangkan menjadi agent of technologically and culturally motivating reousrcesdalam berbagai model yang mampu mendobrak pola pikir tradisional yang pada dasarnya dogmatis, kurang dinamis dan berkembang secara bebas. Karena secara prinsip, nilai-nilai Islam tidak mengekang atau membelenggu pola pikir manusia dalam arena pemikiran rasionalistik dan analitik yang diperlukan dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Relevan dengan hal tersebut, maka dalam hal ini kemampuan berijtihad dalam segala bidang ilmu pengetahuan perlu dikembangkan secaraterus-menerus. Hal yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkembangkan ide-ide dan konsep-konsep keilmiahan yang bersumberkan Alquran ke dalam pelaksanaan pendidikan yang secara fungsional dapat mengacu ke dalam perkembangan masyarakat yang semakin dinamis (Arifin, 2008: 89-90).

Jika dikaitkan antara pendidikan Islam dan IPTEK, maka pada dasarnya keduanya saling menguatkan. Pendidikan Islam yang berangkat dari sumber ajaran agama (Islam), sudah tentu tidak dapat melepaskan diri dari realitas kehidupan sosial manusia yang terus berkembang. Sedangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi, secara khusus teknologi komunikasi/informasi, merupakan di antara konsekuensi yang timbul dari adanya perubahan kehidupan sosial manusia, yang saat ini telah menjalani era globalisasi dengan segala dinamikanya.

Kehadiran teknologi komunikasi, harus diakui memberikan pengaruh yang besar bagi dunia pendidikan Islam. Menurut Marwah Daud Ibrahim, potensi perubahan sosial yang mendasar dari skala makro yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan komunikasi di antaranya adalah: 1) dengan kemajuan teknologi, komunikasi manusia kian kosmopolit. Dengan kata lain, akan membuat orang lebih terbuka dan dapat menerima perubahan yang baik. Hal ini memungkinkan tiap-tiap orang bisa menerima cara pandang berbeda dari budaya yang berbeda; 2) dengan kemajuan teknologi komunikasi diharapkan dapat menumbuhkan semangat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial menjadi semakin meningkat; 3) kemajuan teknologi komunikasi diharapkan pada setiap individu memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Asumsi ini didasarkan pada peralatan komunikasi bisa menjadi alat bantu dalam dunia pendidikan, mengajarkan keterampilan dan sebagainya (Hawi, 2005: 148). Dari ketiga unsur ini diharapkan, pemanfaatan teknologi komunikasi akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki, termasuk dalam pendidikan Islam.

Selain itu, banyaknya muatan informasi yang datang dari segala arah tentu saja tidak semuanya sesuai dengan norma atau nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, secara khusus umat Islam. Karena pada kenyataannya, walaupun dengan kemajuan teknologi komunikasi-informasi banyak memberikan manfaat dan kemudahan bagi kehidupan manusia, tetapi sifat materialistis dan cenderung mengabaikan nilai-nilai moral di dalamnya, perlu menjadi warningkhusus bagi pendidikan Islam untuk mengarahkannya secara lebih bermakna.

Dengan demikian, pada prinsipnya kemajuan teknologi komunikasi tidaklah bertentangan dengan pendidikan Islam, justru sebenarnya sangat membantu dalam meningkatkan kualitas peserta didiknya. Akan tetapi, pendidikan Islam seharusnya dapat selalu di arahkan agar tidak hanyut terbawa arus modernisasi dan kemajuan teknologi komunikasi. Untuk itu, perlu adanya strategi yang mampu mengintegrasikan antara keduanya agar saling melengkapi dan menjadi perpaduan yang dapat mengangkat kualitas pendidikan Islam sesuai dengan tuntutan realita kehidupan.

MEMBANGUN PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Realita perubahan sosio-kultural yang melanda seluruh bangsa sampai saat ini, termasuk Indonesia, menuntut kepada adanya konsepsi baru yang tanggap dan sanggup memecahkan problem-problem kehidupan umat manusia melalui pusat-pusat gerakan yang paling strategis dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pusat strategis tersebut adalah gerakan kependidikan yang memiliki landasan ideal danoperasional yang kokoh berdasarkan nilai-nilai yang pasti dan antisipatif kepada kemajuan hidup, masa sekarang maupun yang akan datang.

Berkenaan dengan upaya untuk membangun pendidikan Islam yang berbasis teknologi komunikasi/informasi, perlu adanya strategi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhannya. Menurut Muzayyin Arifin, beberapa strategi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan modernisasi dan arus globalisasi, karena kemajuan IPTEK mencakup ruang lingkup sebagai berikut: 1) motivasi kreativitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri, di mana nilai-nilai Islami menjadi sumber acuannya; 2) mendidik keterampilan memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya; 3) menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran agama dan IPTEK, dan hubungan yang akrab dengan para ilmuwan yang memegang otoritas IPTEK dalam bidang masing-masing; 4) menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni kontekstual dengan masa (Arifin, 2008: 46-47).

Selanjutnya, program pengembangan pendidikan Islam berbasis IPTEK haruslah sesuai dengan identitas Alquran dan sunnah Nabi yang berorientasi kepada hubungan tiga arah, yakni: pertama, berorientasi ke arah Tuhan pencipta alam semesta; kedua, berorientasi ke arah hubungan dengan sesama manusia; ketiga, berorientasi ke arah bagaimana pola hubungan manusia dengan alam sekitarnya, termasukdirinya sendiri harus dikembangkan. Dalam hal ini, orientasi hubungan alam sekitar dan diri manusia sendiri menjadi dasar pengembangan ilmu dan teknologi (komunikasi/informasi), sedangkan orientasi hubungan dengan Tuhan menjadi dasar pengembangan sikap dedikasi dan moralitas yang menjiwai pengembangan ilmu dan teknologi, dan orientasi hubungan sesama manusia menjadi dasar pengembangan hidup bermasyarakat yang berpolakan atas kesinambungan, keserasian, serta keselarasan dengan nilai-nilai moralitas yang dapat memberikan kesejahteraan (Arifin, 2008: 48-49).

Dalam tataran implementasinya, maka modifikasi kurikulum pendidikan Islam dapat diarahkan pada beberapa hal, di antaranya adalah: 1) penguatan integrasi keilmuan (umum-agama); 2) memberikan porsi yang proporsional kepada pengembangan teknologi berikut penyiapan sarananya; 3) orientasi pendidikan adalah penanaman skill, bukan sekedar teori; 4) penguatan basis agama yang moderat, yakni membangun kesholehan pribadi tapi bersifat inklusif dengan segala bentuk kemajuan.

PENUTUP

Upaya melakukan pembaruan pendidikan Islam, secara prinsip berangkat dari dua persoalan penting, yakni di satu sisi kondisi pendidikan Islam yang masih cenderung tertinggal dibanding umat yang lain, dan di sisi lain, perkembangan masyarakat dunia yang saat ini tengah berada di era globalisasi dengan segala dinamikanya, sehingga menuntut adanya berbagai kesiapan yang cukup tinggi dari semua pihak.

Globalisasi sebagai hasil dari modernisasi, memiliki banyak kecenderungan yang bersifat kualitatif, di antaranya adalah berkembangnya ilmu dan teknologi secara cepat dan pesat, khususnya menyangkut teknologi komunikasi-informasi, sebagai ciri masyarakat yang telah mengalami perubahan dari masyarakat modern ke masyarakat informasi. Namun demikian, perlu untuk digaris bawahi bahwa walaupun kemajuan teknologi tersebut banyak memberikan manfaat, tetapi tidak sedikit pula dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Dalam hal inilah diperlukan pola pendidikan yang mampu mengintegrasikannya secara proporsional.

Dalam hal ini, pendidikan Islam dengan landasan ajaran Alquran, secara prinsip telah memberikan motivasi yang cukup tinggi agar umatnya maju dan mampu menjadi khalifah di muka bumi, agar tercapai kemakmuran yang sesungguhnya. Dengan demikian, pendidikan hendaknya benar-benar responsif dengan perubahan dan tuntutan zaman, terutama terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi-informasi, sekaligus dapat menjadi penguat pendidikan Islam yang berbasis teknologi, khususnya teknologi komunikasi-informasi agar dapat benar-benar memiliki manfaat yang besar bagi masyakakat dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Arifi, Ahmad, Pendidikan Agama Islam: Tantangan Cita Ideal Tujuan Pendidikan Islam di Era Globalisasi, dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Vol. III No. 2, 2006.

Arifin, Muzzayin. 2008. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Ashraf, Ali. 1993. Horison Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Assegaf, Abd. Rachman. 2004. Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi, dalam Imam Machali dan Musthofa (ed), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi (Buah Pikiran Seputar Filsafat, Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya). Yogyakarta: Ar-Ruuz Media.

Hawi, Akmal. 2005. iKapita Selekta Pendidikan Islam. Palembang: IAIN Raden Fatah

Idi, Abdullah dan Suharto, Toto. 2006. iRevitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Langgulung, Hasan. 1993. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.

Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: al-Ma’arif, 1986), cet. ke-IV.

Mukti, Abdul. 2001. Pendidikan Agama dalam Masyarakat Teknokratik, dalam Ismail SM, Nurul Huda, Abdul Kholiq (ed), Paradigma Pendidikan Islam. Semarang: Pustaka Pelajar.

Saefudin, A. M. 1987. Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan.

Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer (Referensi Ilmiah Ideologi, Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Sains). Surabaya: GitaMedia Press.

Tinggalkan komentar

Copy link