Metode Pembelajaran

Metode Pembelajaran Saintifik: Dilengkapi Pendapat Ahli 2021

Metode pembelajaran Saintifik adalah pendekatan pembelajaran dengan mengedepankan praktik peneliti yang berfokus pada siswa yang memungkinkan untuk membangun kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.

Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, ketrampilan dan pengetahuan peserta didik sebagai pebelajar. Proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran (deductive reasoning) ​(Kemdikbud, 18: 2015)​.

Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi dan bukan hanya diberi tahu. ​(Kemendikbud, 1: 2013b)​

Langkah-Langkah Metode Pembelajaran Saintifik

Pendekatan Saintifik memiliki beberapa langkah yang semestinya dilewati. Beberapa langkah yang dimaksudkan itu yakni sebagai berikut:

langkah_metode_pembelajaran_saintifik

Adapun penjelasan tentang langkah-langkah yang terdapat pada gambar di atas, diuraikan pada bagian berikut ini.

1. Mengamati

Tahapan awal dalam penerapan pendekatan saintifik adalah mengamati, dimana pada bagian ini diperankan oleh peserta didik. Sedang guru, hanyalah sebagai fasilitator. Mengamati, merupakan bagian awal yang dilakukan peserta didik. Dalam praktiknya, hal ini dapat dicontohkan seperti “Siswa mengamati media yang ditampilkan guru di depan kelas“.

Kemdikbud ​(Kemendikbud, 1: 2013a)​ mengungkapkan bahwa kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini:

  • Menentukan objek apa yang akan diamati.
  • Membuat pedoman pengamatan sesuai dengan lingkup objek yang akan diamati.
  • Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diamati, baik primer maupun skunder.
  • Menentukan dimana tempat objek yang akan diamati.
  • Menentukan secara jelas bagaimana proses pengamatan akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar

2. Menanya

Menanya merupakan langkah penerapan pendekatan saintifik yang kedua, dimana hal ini memungkinkan untuk peserta didik bertanya secara langsung kepada Guru mereka, tentang materi yang disajikan atau tenatng apa yang mereka amati sebelumnya (langkah 1)

Ada beberapa fungsi bertanya menurut laman Kemdikbud ​(Kemendikbud, 6: 2013)​ antara lain yakni:

  • Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran;
  • Mendorong dan mnginspirasi peserta didik untuk aktif belajara,serta mengambangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri;
  • Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampikan ancangan untuk mencari solusinya;
  • Menstruktur tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, ketrampilan, dan pemahamannya atas subtansi pembelajaran yang diberikan;
  • Membangkitkan ketrampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis dan menggunakan bahasa yang baik dan benar;
  • Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengambangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan;
  • Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok;
  • Membiasakan peserta didik beepikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul;
  • Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.

3. Mengumpulkan Informasi

Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013 ​(Permen 81a, n.d.)​ memberikan penjelasan tentang mengumpulkan informasi/ eksperimen bahwa ini mencakup kegiatan belajar berupa melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian, wawancara dengan narasumber.

Kompetensi peserta didik yang diharapkan dari kegiatan ini yakni teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, dan lain sebagainya.

4. Mengasosiasi

Lebih lanjut dalam Permendikbud Nomo 81a ​(Permen 81a, n.d.)​ Tahun 2013 menjelaskan bahwa mengasosiasi adalah mengolah informasi yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan sebelumnya (eksperimen) dan kegiatan-kegiatan sebelumnya. Kompetensi yang diharapkan dari aktivitas ini mencakup pengembangan sikap jujur, teliti, disimpin, taat aturan, dan lain sebagainya.

5. Mengkomunikasikan

Bagian ini, merupakan langkah terakhir dalam penerapan metode pembelajaran saintifik. Dalam aktivitasnya, siswa mengkomunikasikan hasil kerja yang dilakukan mereka (kelompok belajar). Biasanya, ini dilakukan di depan kelas, demi membangun kemampuan berkomunikasi siswa.

Tujuan Metode Pembelajaran Saintifik

Daryanto ​(Daryanto, 54: 2014)​ mengungkapkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan sesuatu masalah secara sistematik.

  • Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
  • Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
  • Untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, khsusnya dalam menulis artikel ilmiah.
  • Untuk mengembangkan karakter siswa

Terlihat bahwa penggunaan metode pembelajaran saintifik, memberikan pengaruh baik dalam lingkungan kelas, dimana segala langkah yang dilakukan berobjek pada siswa. Oleh karenanya, tujuan dari metode pembelajaran Saintifik ini, mengungkap bahwa pentingnya ia diterapkan dalam aktivitas pembelajaran di kelas.

Daftar Pustaka

  1. Daryanto. 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gava Media.
  2. Kemdikbud. 2015. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2015 Peminatan SMK. Jakarta: Badan Pengembanagan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. Kemendikbud. 2013a. Diklat Guru Dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: t.p.
  4. ———. 2013. Diklat Guru Dalam Rangka Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: t.p.
  5. ———. 2013b. Pendekatan Dan Strategi Pembelajaran. Jakarta: TP.
  6. Permen 81a. n.d. “Permen No. 81a Tahun 2013.” Kumpulan Peraturan Terkeit Pendidikan. Accessed September 26, 2021. https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud81A-2013ImplementasiK13Lengkap.pdf.
reza_lubis_artikel

Ditulis oleh:

Reza Noprial Lubis, M.Pd

Senang menulis berbagai informasi khususnya Pendidikan Islam.

Tinggalkan komentar