media-pembelajaran

Media Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)

Ditulis oleh
Diperbaharui 11 September 2020

Media pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) tentu sangat sering kita dengar.

Terlebih lagi bagi seorang pendidik yang tentunya setiap hari senantiasa mempertimbangkan media yang akan digunakan saat mengajar di dalam kelasnya.

Lantas, apa yang dimaksud dengan media itu?

Penjelasan seputar media pembelajaran PAI akan diulas lebih dalam pada penjelasan di bawah ini.

Hakikat Media Pembelajaran PAI

Media pembelajaran merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari seorang pendidik dalam melakukan transfer ilmu di dalam kelasnya.

Setiap guru, membutuhkan pemahaman tentang media, baik itu dari konsep dasar hingga pada pengetahuan lanjutan.

Setiap kegiatan memerlukan peranan media sebagai langkah dalam membantu seseorang untuk menyampaikan informasi.

Media adalah perantara atau penyampai informasi dari orang pertama kepada orang lain.

Dalam lingkup pendidikan, media dapat diartikan sebagai penyampai pesan antara guru dan siswanya.

Bila demikian adanya, maka tentu sangatlah banyak yang dapat dijadikan alat perantara untuk menyampaikan pesan itu.

Bahkan, pendidik itu sendiri sejatinya adalah media bagi para peserta didiknya sendiri.

Karena, mereka adalah objek nyata dari segala pembelajaran yang dipelajarinya di dalam kelas.

Guru Adalah Media

Maksud dari bagian ini menerangkan bahwa seorang guru yang mengajar di kelasnya juga dapat dikatakan sebagai media.

Gerak gerik, mimik wajah, mulut, dan lain sebagainya yang ada pada pendidik tentulah bagian dari pembelajaran bagi para siswanya.

Para siswa akan mengikuti sebagian atau bahkan hampir keseluruhan dari apa yang diperagakan guru itu sendiri.

Hal inilah yang membuat terbangunnya statemen bahwa guru itu juga bagian dari media di dalam kelas.

Tetapi, tidak hanya cukup sampai disitu saja. Guru, juga membutuhkan sebuah media pembelajaran tambahan agar lebih terfokus.

Bila pembahasan ini terhenti pada istilah bahwa guru itu adalah media, maka itu adalah defenisi yang sangat melebar dan meluas.

Karena sifat guru tidak semata-mata berada pada posisi yang sama di waktu yang sama juga.

Terkadang, ada perilaku yang dicontohkan berbeda di setiap waktunya.

Ini membuatnya menjadi tidak efektif dan efisien untuk menjadi media.

Media pembelajaran harusnya lebih sederhana dari itu.

Media pembelajaran tentu lebih spesifik dan objektif dalam mendukung belajar siswa di kelas.

Oleh sebab itu, guru tentu dipandang perlu memperhatikan hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan.

Media Selain Guru

Benar bila memang ada media selain guru.

Hal ini sudah disinggung pada bagian permulaan penjelasan tentang materi ini.

Walau guru dapat dikatakan sebagai media, tetapi hal itu tidak statis, melainkan dinamis.

Dalam hal kegiatan belajar mengajar, agar dapat terfokus pada satu titik yang dinamakan tujuan pembelajaran, diperlukan adanya media yang bersifat statis mengarah para tujuan yang telah ditetapkan.

Itulah yang menjadi alasan mengapa media selain guru itu tetap diperlukan.

Jika bercerita tentang persoalan Sholat, lantas guru mempraktikkannya sendiri sebagai media.

Lantas, bagaimana pula cara guru itu menerangkan pelajaran secara deskriptif?

Hal ini perlu menjadi pertimbangan. Dirasa, guru memang membutuhkan semacam bentuk media pembantu yang dapat mewakili pesannya (transformasi ilmu) kepada para peserta didiknya di kelas.

Karakteristik Media Pembelajaran PAI

Karakter itu dibutuhkan pada setiap bagian untuk menonjolkan hal yang dirasa penting.

Demikian pula halnya dengan media pembelajaran PAI, dirasa sangat etif bila dibuatkan semacam karakter khusus.

Terlebih lagi, persoalan PAI sangat erat kaitannya dengan religius.

Oleh sebab itu, dibutuhkan karakteristik yang relefan yang bernilai religius itu sendiri.

Pendidikan Agama Islam (PAI) identik dengan nilai moral/keagamaan.

Maka dari itu, terdapat beberapa karakteritsik media pembelajaran PAI diantaranya sebagai berikut:

  • Berorientasi pada nuansa ke-Islaman.
  • Terhindar dari benda yang bersifat diharamkan.
  • Dapat berupa audio, visual, maupun media audio visual.
  • Memiliki relefansi dengan materi pelajaran.
  • Tidak keluar dari ajaran Islam.
  • Memiliki daya yang mampu meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah Swt.

Tinggalkan komentar