MAKALAH PERILAKU ORGANISASI

Ditulis oleh
Diperbaharui 12 Juni 2014
KATA PENGANTAR

           Puji dan syukur pertama kali penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagaimana yang diharapkan. Makalah ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh nilai dalam mata kuliah Manajemen Organisasi di Jurusan PAI-3.
            Penulis menyadari keterbatasan kemampuan dalam penyusunan makalah ini. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi isi, tulisan, maupun kualitasnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki makalah ini. Akhir kata penulis mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi saya sendiri dan pembaca serta mampu untuk memperkaya ilmu pengetahuan Manajemen Organisasi 

BAB I
PEMBAHASAN
I.A. Defenisi
1. Perilaku organisasi
Organisasi adalah suatu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja, terdiri dari dua orang atau lebih yang berfungsi pada suatu basis yang relative berkesinambungan untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan[1]
2. Pengertian Perilaku Organisasi
a. Bidang ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan tentang bagaimana manusia berperilaku atau bertindak dalam organisasi (Davis & Newstrom, 1998)
b. Bidang ilmu yang menyelidiki dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya, bertujuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efektifitas organisasi (Robin, 2003)
Jadi, perilaku organisasi adalah membahas perilaku manusia dalam organisasi untuk meningkatkan efektifitas organisasi.
I.B. Element Perilaku Organisasi
Elemen kunci pada perilaku organisasi adalah manusia, struktur, teknologi, dan lingkungan.
1.      Manusia
Melakukan interaksi (hubungan sosial) dalam organisasi, dapat berupa kelompok besar, maupun kecil.
2.      Struktur Organisasi
Menentukan hubungan formal antara anggota organisasi, pembagian pekerjaan, wewenang dan tanggung jawab.
3.      Teknologi
Merupakan instrumen yang berpengaruh signifikan dalam proses penyelesaian pekerjaan.
4.      Lingkungan
Tidak ada organisasi yang terlepas dari pengaruh lingkungan, karena itu organisasi harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan.
I.C. Model-Model dalam Perilaku Organisasi
1. Model Otokratik
Orang yang duduk dalam posisi pimpinan memiliki kekuasaan untuk memerintah berdasarkan kewenanngan formal. Pimpinan membuat aturan, konsep/pemikiran dan karyawan harus patuh dan melaksanakan tanpa berani membantah meskipun aturan, konsep/pemikiran pimpinan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Akibat psikologis model ini adalah ketergantungan karyawan terhadap atasannya, yang penting loyal dan prestasi kerja juga minimal.
2. model Kastodial
Model ini mengedepankan program kesejahteraan, pemberian berbagai bonus, sehingga karyawan merasa aman. Karyawan diperkenankan membuar organisasi buruh/karyawan untuk memperjuangkan aspirasi mereka. Model ini memerlukan sumber-sumber ekonomi yang kuat untuk mendukung kesejahteraan pegawai termasuk pembayaran pension. Model ini menimbulkan ketergantungan karyawan terhadap organisasi, karyawan bekerja untuk mendapatkan bonus, motivasi kerja lemah, kooperasi yang mereka tampilkan bersifat pasif.
3. Model Suportif
Menejemen tidak mengandalkan sumber-sumber ekonomi, keuangan atau bonus dalam memotivasi pegawai. Orientasi manajerial membantu meningkatkan motivasi pegawai melalui kepemimpinan yang member kesempatan agar pegawai dapat mengerjakan tugas sesuai kapasitas masing-masing. Asumsi pimpinan bahwa seriap karyawan tidak akan menentang keinginan organisasi sejauh pimpinan dapat membimbing dan mengarahkan mereka untuk berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.
4.      Model Kolegial
Model ini mengandalkan pada kemampuan manajemen membangun perasaan kemitraan dengan para pegawai. Dengan cara ini, pegawai merasa dibutuhkan dan berguna. Pimpinan lebih dianggap sebagai mitra kerja, bukan sebagai atasan sehingga bugungan kerja tidak kaku. Model ini menghasilkan disiplin diri dan rasa tanggung jawab dari pegawai,  karena pegawai tidak dianggap sebagai alat profuksi semata.[2]
Dari model dalam perilaku organisasi diatas, dapat diketahui bahwa segala bentuk model yang diterapkan dalam sebuah organisasi bertujuan untuk mengefektifitaskan organisasi, walaupun dengan cara yang berbeda.
Mengapa Kelompok-Kelompok Terbentuk
-Persahabatan
Kebutuhan akan hubungan-hubungan dengan orang lain adalah satu dorongan manusiawi yang paling kuat dan paling konstan. Sebagaimana telah kita ketahui, banyak pekerjaan hanya memerlukan sebagian kecil saja dari seluruh kemampuan orang lain.  Bagi manajemen, seseorang mungkin hanyan sebuah unit buruh atau sebuah nomer saja, bagi teman-teman di tempat kerja, orang itu adalah seorang individu. Dengan rekan-rekan sekerja, karyawan dapat menjadi diri mereka sendiri dan mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang sebenarnya.
Riset menunjukkan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang tidak mempunyai kesempatan untuk hubungan social yang erat dianggap pekerjaan mereka tidak memuaskan, dan ketidakpuasan ini sering kali tercermin dalam produksi yang rendah dan pergantian pegawai serta ketidakhadiran yang tinggi.[3]
Bantuan dalam Pemecahan Masalah-Masalah Kerja.
Cara pemecahan kelompok untuk sebuah masalah mungkin berbeda dengan apa yang diharapkan manajemen, dan itu bisa jadi bahkan lebih efisien. Birokrasi hilang, jalan-jalan pintas bekembang, jalur-jalur komunikasi informal terbentuk untuk melintasi batas-batas antar departemen. Begitu juga kelompok-kelompok kerja dapat pula menuntut lebih banyak pekerja dari yang sebenarnya diperlukan dan melakukan pembatasan kerja.
Pekerjaan-pekerjaan tertentu dapat dilakukan oleh pekerja-pekerja yang terpisah satu sama lain, akan tetapi bekerja secara kelompok sering kali menghasilkan motivasi individual yang lebih besar dan kecepatan kerja lebih tinggi. Bahkan sekolah-sekolah mengadakan percubaan-percobaan yang berhasil dengan mengelompokkan murid-murid, bahkan lagi membiarkan mereka bekerja sendirian atau menunggu giliran mereka untuk berdeklamasi. Anggota-anggota kelompok saling membantu, sehingga mempertinggi tingkat pengetahuan.[4]
I.D. dasar-dasar Perilaku Kelompok
Tidak ada alasan tunggal mengapa seseorang berhubungan dalam kelompok, karena pada dasarnya seseorang itu milik dari berbagai kelompok. Beberapa alasan antara lain :
1.      Pemenuh kebutuhan hidup.
Memenuhi sandang, pangan, papan.
2.      Rasa aman.
Tidak terisolasi dari orang lain.
3.      Status social dan harga diri.
Menimbulkan kebanggaan dan meningkatkan harga diri (terutama bila terjadi anggota kelompok yang bergengsi).
4.      Kekuatan dan pencapaian tujuan.
Kalau sendirian tidak berdaya dan tujuan tidak tercapai.[5]
I,E. Implikasi Bagi Perilaku Organisasi
Peranan lingkungan
Pendekatan objektif menegaskan bahwa lingkugan merupakan kekuatan pendorong di belakang perilaku organisasi. Organisasi dikondisikan oleh lingkungan, dan kelangsungan hidup organisasi bergantung pada kemampuannya menafsirkan lingkungan yang nyata dan beradaptasi dengannya.

Kesederhanaan dan kerumitan
Terlepas dari apakah pandangan yang digunakan objektif atau subjektif, banyak metafora yang digunakan untuk menggambarkan organisasi. Ini menunjukkan bahwa organisasi tampak pelik hampir bagi setiap orang. Meskipun demikian, pendekatan objektif cenderung merespon dan beradaptasi dengan lingkungan, yang mengisyaratkan lebih banyak stabilitas dan rutinitas daripada yang seharusnya.[6]
Perilaku Organisasi (OB) berfokus pada tiga bidang: perilaku individu, perilaku kelompok, dan aspek organisasi. Tujuan dari OB yang menjelaskan, memprediksi, dan mempengaruhi perilaku.
I.F. Posisi Perilaku Organisasi
         PO cenderung lebih berorientasi pada teori dan berada pada level mikro analisis.
         PO berasal dari kerangka teoritis ilmu perilaku (antropologi, sosiologi, dan terutama psikologi) yang difokuskan pada pemahaman dan penjelasan perilaku individu dan kelompok dalam organisasi.
         PO merepresentasikan sisi manajemen manusia, bukan keseluruhan manajemen
         Semua manajer tanpa mempedulikan fungsi teknis merupakan manajer SDM karena mereka berhubungan dengan perilaku manusia dalam organisasi. Karena itu semua manajer perlu  punya pemahaman dan perspektif perilaku organisasi.[7]


BAB II
KESIMPULAN
Perilaku organisasi yaitu membahas perilaku manusia dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan efektifitas organisasi.
Kebutuhan akan hubungan-hubungan dengan orang lain adalah salah satu dorongan manusiawi yang paling kuat dan paling konstan. Sebagaimana telah kita ketahui, banyak pekerjaan hanya memerlukan sebagian kecil saja dari seluruh kemampuan seseorang. Ini merupakan bagian dari latar belakang mengapa kelompok-kelompok atau organisasi itu terbentuk.
Empat elemen kunci pada perilaku organisasi yaitu :
1.      Manusia
2.      Struktur organisasi
3.      Teknologi
4.      Lingkungan
Ada empat model dalam perilaku organisasi, yaitu model otokratik, model kastodial, model suportif, dan model kolegial. Seluruh elemen dan model dalam perilaku organisasi ini bertujuan untuk mengefektifitaskan suatu organisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Sailwa, Prof.DR.H.Wirman Syafri,M.Si . “Perilaku Organisasi” . Diakses 11 Mei 2014. http://www.ipdn.ac.id/purek1/wp-content/uploads/2011/05/PERILAKU-ORGANISASI.pdf
Sidik, Arochim. “Materi Perilaku Organisasi”. Diakses 11 Mei 2014. http://rochimsidik.files.wordpress.com/2013/01/materi-perilaku-organisasi.pdf
Pace, R Wayne dan Don F Faules. 1998. Komunikasi Organisasi. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Stauss, George dan Leonard R Sayles. 1996. Manajemen Personalia. PT.Pustaka Binaman Presindo
Thaheer, Dr. Ir. Hermawan. Cet:1, 2005. Sistem Manajemen HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Bumi Aksara.


[1]Arochim Sidik, “Materi Perilaku Organisasi”, http://rochimsidik.files.wordpress.com/2013/01/materi-perilaku-organisasi.pdf, diakses pada 11 Mei 2014 pukul 20.35
[2]Prof.DR.H.Wirman Syafri Sailiwa,M.Si, Perilaku Organisasi, http://www.ipdn.ac.id/purek1/wp-content/uploads/2011/05/PERILAKU-ORGANISASI.pdf, diakses tanggal 11 Mei 2014 pukul 21.13
[3]George Strauss dan Leonard R. Sayles. Manajemen Personalia, CV.Teruna Grafica, 1996, hal.141
[4] Ibid., hal.144
[5]Prof.DR.H.Wirman Syarif Sailiwa,M.Si, Op. Cit, hal.20
[6]R.Wayne Pace dan Don F. Faules, Komunikasi Organisasi, PT.Remaja Rosdikarya Bandung, 1998, hal 20

Tinggalkan komentar