Kritiklah argumentasinya anandaku, jangan kau serang pribadi pembicaranya. Itu namanya ‘Ad Hominem.’ — Hindarilah…! karena bicaramu bagaikan foto kabur, dan kehadiranmu bagaikan kursi-kursi kosong.

Ditulis oleh
Diperbaharui 29 Januari 2018

12642684 1523747061259563 4876647893352685602 n

—Aku suka mereka yang kritis dalam berbagai forum diskusi. Tapi aku terenyuh dan kadang-kadang ‘terperangah’ ketika mahasiswa sahabat-sahabatku mengandalkan senjata kritiknya dengan ‘ad hominem’. Memang sudah zamannya barangkali (?), ‘ad hominem’ itu masih sering dijumpai dalam argumentasi mahasiswa maupun di kalangan alumni Perguruan Tinggi. Tidak saja dalam dialog non-formal saja sebagai canda, namun juga pada forum-forum yang sifatnya akademis baik di kampus maupun di dunia maya (forum online). 

—Mungkin di antara kita sudah sering mendengar, atau membaca komentar dalam forum dunia maya ucapan-ucapan yang berbunyi:

(1) “Jangan percayalah pada ustadz itu. Dia berbicara tentang buruknya sifat peminta-peminta dalam Islam, tetapi ketika Pak Ustadz itu membangun rumahnya yang cantik sekarang ini, dia itu dulu, sangat sibuk menghubungi orang-orang kaya atau pejabat meminta bantuan batu bata, semen, kayu, kosen dan daun pintu….!”

(2) “Saya tidak sepakat dengan B karena dia bukan orang Islam…!” 

(3) “Ah Bapak kan tak menjabat lagi, bisalah bicara seperti itu, coba waktu menjabat dulu apa yang telah bapak lakukan…?”

—Komentar-komentar di atas masuk dalam kategori ‘ad hominem’ dan terasa kurang pantas diucapkan oleh seorang (atau pernah menjadi) mahasiswa. Dalam bahasa sederhana ‘ad hominem’ sama dengan ‘personal attack’ atau menyerang pribadi si pembicara dan bukannya argumentasinya. 

—Ad Hominem biasanya muncul ketika si penyanggah tidak lagi mempunyai jawaban atas pernyataan lawan bicaranya sehingga komentar-komentar itu muncul untuk mengunci pembicaraan sekaligus memojokkan lawan bicara.

—Secara umum ada beberapa jenis ‘ad hominem’. Namun, seperti contoh di atas, ada tiga jenis yang sering dijumpai, antara lain ‘abusive ad hominem’, ‘circumstantial’, dan ‘tu quoque’.

—‘Abusive ad hominem’ muncul ketika lawan bicara mengeluarkan pernyataan yang menyerang manusianya secara langsung. Argumen yang dikeluarkan seringkali melecehkan individu yang disanggah. Bisa juga terjadi ketika seseorang menghubungkan karakteristik lawan bicara dengan argumentasi yang ia ucapkan. Contoh pertama di atas adalah ‘abusive ad hominem’. Bisa dilihat bagaimana argumentasi diarahkan untuk menyerang pembicara melalui penghubungan antara argumentasi lawan bicara dengan karakteristik pribadinya yang sebetulnya tidak ada pertaliannya.

—‘Circumstantial’ adalah tipe yang mirip dengan tipe sebelumnya yang juga menyerang individu lawan bicara meskipun tidak se-ekstrim tipe pertama di atas. Pada tipe ini, argumentasi diarahkan untuk menghubungkan keyakinan seseorang dengan lingkungan hidupnya. Contoh nomor dua di atas adalah ‘circumstantial ad hominem’. Di situ jelas bahwa ketidaksetujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.

—‘Tu quoque’, yang secara literal dalam bahasa Latin bermakna ‘you also’ atau ‘kamu juga’. Ketika lawan bicara mencoba menghubungkan antara ‘argumen’ dan ‘tindakan’ maka hal ini termasuk ‘tu quoque ad hominem’. Lawan bicara ingin menunjukkan bahwa si pembicara sebetulnya tidak (akan) konsisten dengan apa yang diucapkannya. Di sini lawan bicara mendebat individunya dan bukan argumentasinya. Dia (lawan bicara) ingin menunjukkan bahwa pembicara adalah ‘hypocrite’ yang tidak sesuai antara ucapan dan perbuatannya. 

—Seharusnya argumentasi diarahkan untuk mendebat argumentasi pembicara dan menunjukkan bahwa bobotnya lebih rendah dari apa yang sedang disampaikan. Di sinilah seorang mahasiswa harus membedakan diri dari masyarakat awam. Pola pikir ilmiah seharusnya tidak saja menjadi prinsip yang berhenti di meja kuliah ketika merumuskan masalah-masalah ilmiah dalam penelitian. Gagasan ilmiah yang diturunkan dari penalaran induktif dan deduktif seharusnya juga diterapkan dalam menganalisis fenomena sosial yang kompleks sehingga permasalahan tersebut dapat dipetakan dengan baik, dikenali sumber penyebabnya kemudian dicarikan solusi pemecahannya. Dengan cara ini mahasiswa yang berbakat sebagai kritikus-kritikus yang menonjol di ranah publik, seyogianya bertanggung jawab dengan tawaran solusi atas masalah yang ada. Bukan asal kritik (asik), asal komentar (askom), atau asal bunyi (asbun) dan lain-lain.

—Oke….!

Tinggalkan komentar