,

Komponen Struktur Program dan Materi (Bahan Ajar) Pengembangan Kurikulum Menurut Al-Rasyidin (2012)

Ditulis oleh
Diperbaharui 8 November 2018
Komponen%2BStruktur%2BProgram%2Bdan%2BMateri%2B%2528Bahan%2BAjar%2529%2BPengembangan%2BKurikulum


Al-Rasyidin (2012: 162-163) mengemukakan bahwa, secara umum cakupan kurikulum pendidikan Islam meliputi seluruh kawasan kehidupan manusia Muslim, baik dalam ruang lingkup wilayah ke khalifahan maupun pengabdiannya kepada Allah Swt sebagai makhluk ibadah. Karena itu, dalam konteks wilayah ke khalifahan manusia, maka kurikulum pendidikan Islam harus memuat tentang:

  1. Hakikat manusia sebagai: (a) makhluk ciptaan Allah Swt, (b) makhluk yang dianugrahi potensi jismiyah dan rhiyah, sehingga berkemampuan membelajarkan diri, (c) makhluk yang dipilih sebagai khalifah.
  2. Kapasitas atas kemampuan manusia dalam meneladani dan mengembangkan sifat-sifat ketuhanan dan tersimpul dalam asma al-husna ke dalam dirinya.
  3. Adab atau akhlaq al-karimah, yakni nilai-nilai universitas untuk menata kehidupan diri sendiri, masyarakat dan alam semesta yang sejahtera, anggun dan mulia.
  4. Al-ilm, yaitu ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk mampu menjalankan tugas ke khalifahannya, baik ilmu yang didatangkan Allah Swt melalui nabi dan Rasul-Nya, maupun ilmu yang dihamparkan-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia, yang dapat didekati manusia lewat pengindraan, pemikiran, dan eksperimentasi ilmiah.
  5. Sunnah Allah (Sunnatullah), yaitu perubahan dan perkembangan alam semesta kehidupan manusia dimana mereka dipersyaratkan untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian agar mampu menyiasati dan mewarnai perubahan tersebut ke arah yang lebih baik.
Kemudian, dalam konteks disiplin ilmu pengetahuan, maka kurikulum pendidikan Islami harus memuat:

  1. Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dari Alquran dan Sunnah. Ilmu pengetahuan ini berfungsi untuk memberikan panduan, bimbingan, arahan, dan aspirasi nilai dalam kehidupan peserta didik. Meskipun tidak semua bisa diverifikasi secara saintifik, tetapi kebenarannya bersifat absolut atau mutlak, karna berasal dari Tuhan.
  2. Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dengan memberdayakan akal atau rasionalitas manusia, baik melalui perenungan, eksplorasi, maupun eksperimentasi ilmiah.
  3. Ilmu-ilmu bantu untuk mempermudah pengkajian dan pengembangan kedua ilmu di atas, berkenaan dengan bahasa dan metodologi.


DAFTAR BACAAN
Al-Rasyidin, 2012. Filsafah Pendidikan Islami, Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Praktik Pendidikan.

Tinggalkan komentar