Daftar Isi

df guru milenial bag 1
Bagian 1
Mengetahui Guru Milenial
df guru milenial bag 2
Bagian 2
Tingkatkan Kompetensi
df guru milenial bag 3
Bagian 3
Jalin Hubungan Luas
df guru milenial bag 4
BAGIAN 4
Tantangan Guru Milenial
df guru milenial bag 5
Spesial
Tips Untuk Guru Milenial
df guru milenial bag kesimpulan
Penutup
Kesimpulan

BAGIAN 1:
Tentang Guru Milenial


Kita sering mendengar tentang istilah Guru Milenial.

Mungkin anda juga merasakan hal serupa.

Bahkan, banyak penelitian yang sudah dilakukan tentang ini.

Oleh karena itu, mari kita mulai pembahasan tentang dasar-dasar guru milenial itu.

Mari dalami lebih jauh.

tantangan_guru_milenial_ilustrasi

Pengertian Guru Milenial

Milenial adalah generasi yang lebih dikenal sebagai generasi Y, dimana golongan yang termasuk generasi Y adalah orang-orang yang tahun kelahirannya pada 1980 dan pertengahan tahun 1990 hingga 200-an.

Generasi milenial juga biasa disebut sebagai “Echo Boomers“. Ini dikarenakan adanya “Booming” (peningkatan besar) pada angka kelahiran di tahun 1980-1990.

Sedangkan yang dimaksud dengan guru adalah orang yang pekerjaannya adalah mengajar (instruktor) atau mendidik (educator).[1]

Jadi, guru milenial adalah guru yang masa tugas berada pada tahun 2000-an yang mendidik generasi milenial. Sadarilah, bahwa perlu perubahan yang mendalam untuk menjadi seorang guru di masa milenial, dikarenakan akan berhadapan dengan generasi milenial.

Kelahiran di Tahun Industri

Milenial lahir di tahun industri yang kian meningkat. Dimana, banyak teknologi canggih diperkenalkan publik.

Contoh sederhana adalah Gawai (perangkat seluler), sebuah teknologi canggih dimana hampir setiap orang dewasa memilikinya.

Dengan tahun lahir yang bersamaan dengan perkembangan dalam dunia teknologi, tentu saja ini menjadi sesuatu yang merubah pola kehidupan manusia di masa mendatang.

Saya menemukan sebuah penelitian yang memberikan gambaran berupa sebuah tantangan besar di era milenilal. Pada 2013 silam, Pew Research mengeluarkan hasil penelitian 84% dari anak milenial, yang lahir pada tahun 1980 atau usia sekitar 33 tahun (sejak tahun penelitian diterbitkan) lebih suka menggunakan ganja.[2]

Selanjutnya pada Maret 2014 silam, Pew Research mengeluarkan sebuah laporan tentang “Milenial di Masa Dewasa” yang menceritakan tentang milenial terpisah dari keluarga dan temannya.[3]

Milenial adalah masa yang mengkhawatirkan. Oleh karenanya, penting untuk melakukan modifikasi terhadap sesuatu agar terhindar dari berbagai ancaman lingkungan luas bagi diri mereka. Peran guru, adalah bagian yang tidak kalah pentingnya disini. Oleh karena itu, dengan slogan “Digugu dan Ditiru” menjadi landasan untuk seorang guru terhadap prilaku yang ditampilkannya.

BAGIAN 2:
Tingkatkan Kompetensi Guru


Tidak ada alasan bagi seorang guru, untuk mengabaikan kompetensi yang dimilikinya.

Ini harus senantiasa diupgrade, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Guru merupakan media pembelajaran bagi peserta didiknya. Oleh karenanya, apa yang ditampilkannya harus menjadi sesuatu yang dianggap penting.

tingkatkan_kompetensi_guru

Cari Ilmu Sebanyak-banyaknya

Berbicara persoalan ilmu sangatlah luas. Ini tidak hanya terbatas pada studi formal saja seperti kuliah.

Banyak tempat untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya (yang paling mudah) adalah dengan menggunakan internet. Disana, akan memperlihatkan betapa banyaknya sumber informasi yang bisa didapatkan.

Orang-orang mengatakan bahwa: “Tapi tidak semua informasi di internet itu benar..”

Saya yakian dan percaya tentang itu. Bahkan terkadang, saya kerap sekali berada dalam sebuah halaman yang berisi informasi menyesatkan.

Tetapi tidak ada sesuatu hal yang berjalan dengan mulus. Setiap tempat memiliki tantangan masing-masing, terlebih lagi bila itu persoalan informasi.

Saya cenderung berpikir positif tentang segala hal yang terjadi. Tantangan mendapatkan informasi melalui internet adalah persoalan penipuan dan ini sering diberitakan.

Jadi, satu-satunya cara untuk menyikapi ini adalah dengan memahami informasi yang menyesatkan. Itu berbicara tentang apa ciri-ciri dari informasi yang menyesatkan, bagaimana bentuk informasi yang resmi, situs-situs penyedia informasi yang resmi, dan masih banyak lagi.

Saya beri satu contoh, yang belakangan ini ramai sekali terjadi.

Melalui social media pribadi saya, ditemukan adanya penyebaran HOAKS yang memberitakan tentang dana bantuan dari kementerian pendidikan.

Ironisnya, banyak diantara teman-teman saya yang menyebarkan hal itu di berbagai pesan grup sosial media.

Apa yang perlu kita lakukan disini, dalam menyerap informasi yang beredar itu?

Satu-satunya cara adalah mengetahui bentuk informasi yang disebarkan. Itu sangat jelas.

Dalam kasus saya, saya melihat bahwa situs web yang berisi informasi HOAKS itu ditandai dengan Domain yang tidak resmi.

Jauh sebelumnya, kita harus mengetahui tentang bagaimana informasi resmi itu. Seperti dalam kasus ini, adalah persoalan pengadaan dana bantuan untuk Guru/ Pendidikan. Tentu saja, informasi yang paling dapat dipercaya sepenuhnya adalah situs web resmi dari pemerintah setempat, yaitu kemdikbud.go.id.

Itu adalah ciri-ciri yang paling terlihat dan mudah untuk dipahami. Lihatlah itu setiap kali ada informasi penting yang disebarkan. Ekstensi Domain go.id, adalah domain resmi milik pemerintah dan tidak sembarangan orang dapat membuat yang serupa.

Ini adalah salah satu contoh, betapa pentingnya melakukan Upgrade pengetahuan bagi seorang guru. Kita tidak lagi bisa menggunakan metode kuno dalam praktik kehidupan terdahulu. Datang ke sekolah untuk mengajar, lalu kemudian pulang dan berdiam diri di rumah.

Kini waktunya guru bangkit dan terus mengasah kemampuan dalam berbagai ilmu. Media sudah tersebar luas. Hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah tentang bagaimana cara praktis menyerap informasi agar terhindar dari penipuan melalui internet.

Kuasai Teknologi

Teknologi benar-benar berperan penting saat ini. Hadirnya teknologi dinilai dapat membantu meringankan pekerjaan manusia.

Tahukah anda, bahwa saat ini usia produktif adalah usia yang paling banyak menggunakan internet?

pengguna-internet-berdasarkan-kelompok-usia
Sumber: databoks.katadata.co.id

Hampir setengah dari seluruh pengguna internet adalah usia 19-34 tahun. Sadar atau tidak, ini adalah usia produktif yang semestinya dikembangkan keilmuannya agar dapat menciptakan sesuatu yang berarti.

Beberapa diantara kita, juga berada dalam usia ini bukan? Mungkin anda seorang guru, yang masih berada dalam usia tersebut. Maka, ini semestinya menjadi kesempatan besar bagi anda untuk terus mengembangkan pemahaman melalui internet. Jangan sampai terkalahkan oleh anak usia sekolah (19 tahun).

Terlebih lagi di tahun 2019, sekolah harus dilakukan dari rumah dikarenakan wabah Virus Corona. Bahkan lebih parah, keadaan ini masih tetap berlangsung hingga sekarang ini (2021).

Ini membuat proses belajar mengajar dilakukan dengan jarak melalui online, yaitu bersentuhan langsung dengan teknologi. Bayangkan betapa meruginya seorang guru, bila ia tidak mengetahui lebih dalam tentang teknologi. Ini akan menjadi sesuatu yang membosankan bukan?

Oleh karenanya, bersiaplah menghadapi pendidikan di masa mendatang. Sadar atau tidak, saat ini kita sedang dilatih untuk melakukan pembelajaran dengan online. Mungkin saja, masa mendatang keadaan ini tetap dijalankan. Bisa jadi…!!

Saya pikir, mungkin pemahaman seputar teknologi menjadi bagian indikator dari kompetensi guru. Entah itu di masa sekarang, atau di masa mendatang.

BAGIAN 3:
Jalin Hubungan Yang Luas


Seorang guru semestinya menerima berbagai teman disekeliling mereka.

Ini bernilai baik bagi perkembangan keprofesiannya.

Menjalin hubungan baik dan luas termasuk bagian dari kompetensi sosial yang semestinya dimiliki seorang guru.

Mari kita simak lebih dalam.

jalin_hubungan

Ini Membantu Upgrade Keilmuan

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman akan didapatkan dari aplikasi sesuatu, dan umumnya itu sering terjadi di lingkungan sosial.

Tidak ada yang dapat memastikan bahwa lingkungan sosial selamanya berdampak buruk bagi keilmuan guru.

Apakah anda takut akan kehilangan ilmu, bila berada dalam lingkungan sosial?

Bila diterapkan dengan sungguh-sungguh, disanalah anda akan mendapatkan lebih banyak ilmu.

Saya bergabung dengan berbagai kelompok di luar sana, dan mendapatkan banyak hal yang tidak akan saya temui selama menempuh pendidikan formal.

Bahkan, saya tidak menemukan itu dalam lingkungan kerja saya.

Banyak hal yang saya temui seperti komunitas Blogger, organisasi Karate, Pengajian, dan masih banyak lagi.

Berada di tempat yang beragam itu, membuat anda (seorang guru) mengetahui sesuatu yang lebih luas, dari setiap buku yang anda baca.

Bukan tidak mungkin, bahwa itu dibutuhkan sebagai pendukung aktivitas kegiatan belajar mengajar anda.

Misalnya, saya mengetahui tentang Google, dan bagaimana mereka menghasilkan sebuah pencarian.

Itu membuat saya menjadi lebih mengerti, dan bertekad untuk meliterasikan hasil pencarian itu.

Bukankah itu tugas dari seorang guru?

Menambah Koneksi

Guru milenial tentunya memperhatikan koneksi bukan?

Koneksi itu penting bagi seorang guru, bahkan ini juga penting untuk siapa saja.

Koneksi akan menambah pergaulan anda, baik dalam dunia nyata maupun dalam dunia maya.

Sebagai contoh, saya mendapatkan lebih dari 200+ user yang terkoneksi dengan akun Linkedin saya, dan itu berguna.

koneksi_linkedin_reza_lubis

Menariknya, saya menemukan banyak orang-orang yang berada dalam satu Universitas dimana saya berasal.

Apa yang dapat dilakukan dari sini?

Ini akan menambah jumlah pertemanan anda. Anda menjangkau banyak tempat dari sini.

Mereka juga dapat menjadi tempat yang baik, untuk mengembangkan kompetensi yang anda miliki sebagai guru.

BAGIAN 4:
Tantangan Guru Milenial


Sekarang, saatnya kita mengetahui tentang tantangan apa saja yang akan dihadapi bagi seorang guru milenial.

Anda sudah mengetahui, bahwa guru milenial beresiko tinggi, dan memerlukan tehnik dari pembaruan sesuai dengan perkembangan zaman.

Jadi, dengan memperhatikan beberapa tantangan yang ada, akan menjadi sumber acuan dalam bertindak dan berperilaku.

tantangan_guru_milenial

Praktik Digitalitasi

Ini penting untuk diketahui. Lihatlah betapa banyaknya siswa yang sudah tidak asing dengan Handphone (Smartphone).

Sebagian atau bahkan hampir keseluruhan dari mereka mengenal istilah ini, meski beberapa bagian belum menggunakannya dalam praktik sehari-hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba mencari data tentang seberapa banyak siswa yang memiliki Handphone pribadi, untuk kebutuhan pribadi mereka.

Hasilnya cukup mengejutkan. Lebih dari 80% dalam daftar saya, memiliki handphone untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

penggna hp bagi siswa

Ini adalah gambaran data yang berasal dari 3 kelas (tidak bisa disebutkan) untuk jenjang pendidikan tingkat SMA/ MA.

Kebanyakan dari mereka menggunakan itu untuk berhubungan dengan teman, dan orangtua mereka.

Tetapi, bukan itu yang menjadi fokus dalam bahasan ini. Penggunaan handphone, benar-benar mempengaruhi mereka.

Baru-baru ini saya menemukan sebuah hasil studi ilmiah dari penelitian Skripsi Istifadah, yang memberi kesimpulan bahwa penggunaan handphone pada siswa cenderung berdampak negatif.

dampak_negatif_handphone_bagi_siswa_dari_penelitian_istifadah

Kecenderungan negatif yang dimaksudkan itu seperti:

  • Lebih banyak menghabiskan waktu luang untuk bermain game, Sms, Chatting, dan sebagainya.
  • Kurangnya perhatian terhadap guru saat belajar di kelas
  • Kurangnya tanggung jawab siswa terhadap tugas sekolah
  • Kurangnya kejujuran saat melangsungkan ulangan, dan bertukar jawaban melalui Handphone
  • Lebih sering datang terlambat kesekolah
  • Tidak jail terhadap teman, dan lebih menyibukkan diri dengan Handphone
  • Mengerjakan PR di sekolah (bukan di rumah).

Keadaan di atas, tentunya bukanlah sebuah perilaku terpuji dari seorang siswa yang terpelajari.

Pengaruh Handphone benar-benar memberi dampak negatif bagi siswa.

Yang menjadi perhatian adalah tentang bagaimana guru dapat mengatasi ini. Salah satu cara yaitu dengan digitalisasi, dimana guru juga semestinya memahami tentang Handphone itu.

Handphone hanyalah sebuah sampel sebagai bahan penyampaian masalah dalam kasus ini.

Jika seorang guru tidak mengetahui tentang bagaimana Handphone itu beroperasi, atau program apa saja yang ditemukan dalam Handphone siswa, dan sebagainya tentu akan sulit untuk mendeteksi dampak negatif yang dimaksud.

Oleh karenanya, sebagai guru milenial semestinya tidak asing bila bersentuhan dengan teknologi yang sederhana.

Mengetahui fungsi-fungsi handphone, akan membuat guru lebih mudah untuk mendeteksi tindakan negatif yang dilakukan siswa melalui Handphonenya.

Atau mungkin, memilih untuk meminta siswa menonaktifkan handphonenya. Itu adalah sebuah opsi.

Dengan demikian pula, guru akan dapat memberikan alternatif, sudut pandang, bahkan solusi kepada peserta didiknya. Dari sini akan terliaht bahwa peran guru tidak akan tergantikan dengan teknologi.

Perkembangan Digital

Ini tidak hanya berhenti di suatu tempat tertentu. Guru harus senantiasa meng-Upgrade keilmuan mereka tentang teknologi.

Saya tidak mengatakan bahwa anda harus mahir dalam menggunakan program digital tertentu.

Tetapi paling tidak, mengetahui tentang apa, dan bagaimana manfaatnya bagi para peserta didik.

Revolusi industri itu bekerja dengan sangat cepat, dan itu membuat perubahan yang terjadi setiap waktunya.

Perubahan yang cepat itu, membuat opini bahwa guru harus terus mengikuti perkembangan agar tetap dapat memberikan nilai-nilai positif bagi peserta didik mereka.

Menjaga Karakter Bangsa

Tantangan guru milenial lainnya adalah tentang karakter bangsa.

Ini bersifat kompleks dan cukup luas. Guru adalah tempat yang strategis untuk meluruskan persoalan karakter bangsa.

Perkembangan informasi mengikuti dari perkembangan teknologi. Itu terjadi karena informasi begitu mudah diserap melalui teknologi yang hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Ini memungkinkan untuk munculnya berbagai macam informasi mulai dari yang bersifat Hedonisme hingga pada Radikalisme, yang tentunya membutuhkan perhatian dari seorang guru.

Disinilah peran penting dari seorang guru, yang dapat meluruskan berbagai informasi yang menyimpang dan tidak dibutuhkan oleh peserta didik mereka.

Satu alasan yang harus diwaspadai adalah bahwa teknologi membuat informasi lebih cepat diakses. Bagaimana siswa mengatasi ini, bila mereka belum memahami lebih jauh tentang sebuah informasi itu?

Jadi, ini benar-benar membutuhkan bimbingan dari seorang guru, agar berhati-hati daam berbagai informasi yang diterima melalui penggunaan teknologi.

BAGIAN 5:
Tips Untuk Guru Milenial


Saya ingin memberitahukan tentang beberapa tips yang mungkin sesuai untuk anda.

Dengan berbagai sudut pandang yang ada, mungkin ini dapat dijadikan sebagai opsi dalam menjalankan tugas keguruan anda, dimana tempat itu berlangsung.

Ini setidaknya mampu meminimalisir kebingungan anda, tentang bagaimana berhadap dengan siswa.

Mari kita simak lebih dalam.

tips-guru-milenial

Hilangkan Perasaan Malu

Saya tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang baru. Menghilangkan rasa malu adalah hal yang terbaik sepanjang pengalaman saya untuk mengetahui sesuatu yang baru.

Benar. Anda harus mencari sesuatu yang baru tentang apapun itu.

Ini penting untuk anda, dan untuk persiapan anda menghadapi siswa dengan masalah serupa.

Jika anda mengetahui sesuatu, sedang siswa anda memiliki masalah seperti apa yang anda ketahui itu, ini akan jauh lebih mudah.

Pelajarilah lebih banyak, dan kurangi rasa malu.

Ketahui Trend Terbaru

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anda harus mengikuti perkembangan zaman.

Maksudnya adalah Trend terbaru, tentang apa yang sedang ramai dibicarakan.

Mungkin dapat mengetahui ini dari berbagai tempat, seperti televisi, atau mungkin yang lebih cepat seperti internet.

Ketahui tentang sesuatu yang viral-viral, atau informasi yang menarik lainnya.

Saya biasanya menggunakan internet, agar lebih cepat dalam mendapatkan informasi.

Google Trends, adalah alat gratis yang sering saya gunakan untuk mengetahui sesuatu yang sedang ramai dicari orang.

Sebagai contoh, saya menggunakan istilah pendidikan sebagai objek yang ingin saya temukan.

Hasilnya, memperlihatkan statistik perkembangan dari waktu ke waktu.

Menariknya, saya juga mengetahui tentang lokasi diberbagai daerah yang menggunakan istilah ini dalam pencarian mereka.

Anda juga akan dapat melihat bagian mana yang berkembang pesat, dan bagian mana yang statis.

Teruslah Berlatih

Sebagai guru milenial, jangan sampai melupakan tugas dasar seorang guru, yang termuat dalam kompetensi guru.

Terkadang, di era digital ini terjadi hal yang terbalik, dimana orang-orang lebih mengedepankan persoalan teknologi, dibandingkan dengan makna dasar dari keprofesiannya.

Sebagai guru, tentang bagaimana bersikap, bagaimana berhubungan, atau pengetahuan, segalanya itu diatur dalam Kompetensi Guru.

Oleh karenanya, jangan lupakan ini dan tetaplah berlatih untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki.

Kesimpulan


Pemahaman tentang guru milenial adalah sesuatu yang semestinya diketahui.

Ini sebagai persiapan dalam menjalankan tugas di era digital, dimana segala hal dengan siswa itu terpengaruh.

Persiapkan diri sebaik mungkin, adalah solusi tepat untuk tetap mempengaruhi di masa mendatang.

Pastikan itu dan ikuti perkembangan zaman.

kesimpulan

[[references]]

References

  1. Akhyak. 2005. Profil Pendidik Sukses: Sebuah Formulasi Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Surabaya: eLKAF.
  2. https://www.pewresearch.org/politics/2013/04/04/majority-now-supports-legalizing-marijuana/, diakses pada 10 Februari 2021.
  3. https://www.pewresearch.org/social-trends/2014/03/07/millennials-in-adulthood/ , diakses pada 10 Februari 2021.

Tinggalkan komentar

Copy link