CROSSING DALAM PENDIDIKAN Oleh: Reza Noprial Lubis, S. Pd. I

Ditulis oleh
Diperbaharui 29 Januari 2018
Berbeda dengan crossing dalam sepak bola, yang melambungkan bola mengarah teman satu tim menuju gawang lawan untuk upaya menghasilkan gol, dalam pendidikan juga dapat diistilahkan dengan crossing. Crossing yang dimaksud ialah upaya yang dilakukan dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan selama ini.
Umpan terobosan, sudah diupayakan pendidikan dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan dengan bergantinya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), selanjutnya ke Kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan saintifik (Sainfitic Approach). Namun serangan balik yang dihadapi begitu menusuk dengan lahirnya teknologi yang belakangan mengikis moral dan akhlak manusia. Modern ini, kita banyak dihantui dengan premanisme, begal, yang menggambarkan prilaku manusia sudah sulit untuk dikontrol. Tak pandang usia, pelajarpun ikut ambil andil didalamnya. Serangan balik semacam ini tentu mengancam gawang kita. Untuk itu, perlu kiranya melakukan crossing agar dapat melewati masa tekanan ini. Belum ada gol yang tercipta, kita masih bisa berbenah.
Pernahkah kalian mendengar tentang Sekolah Islam Terpadu? Ya, sekolah umum yang didalam kurikulumnya menganut prinsip-prinsip ke-Islaman. Secara luas, Sekolah Islam Terpadu atau yang biasa disebut dengan SIT dimaknai sebagai sekolah yang menjalankan kurikulum dengan mengintegrasikan nilai-nilai ke-Islaman didalamnya. Berbeda dengan sekolah umum lainnya, yang menjalankan nilai keagamaan disekolah hanya sebagian kecil saja.
Sekolah Islam Terpadu belakangan ini melangit namanya. Ini menjadi alasan para donatur-donatur untuk mendirikan Sekolah Islam Terpadu. Masyarakat luas mengenal bahwa Sekolah Islam Terpadu memiliki kurikulum sekolah yang bercirikan Islam. Jika ditelusur lebih jauh, program-program yang disajikan menyamai dengan apa yang ada pada sekolah-sekolah berbasis ke-Islaman lain seperti madrasah diniyah, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan lain sebagainya.
Terlebih lagi, Sekolah Islam Terpadu juga menerapkan sistem fuul day school mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tingkat menengah. Ini dinilai cukup positif, sebab dari tiga subjek pendidikan yakni keluarga, lingkungan dan sekolah, hanya sekolahlah yang memberikan nilai positif sepenuhnya terhadap anak. Oleh sebab itu, pendidikan Full Day School ini perlu diperhatikan lebih dalam.
Berikut konsep desain yang dapat saya gambarkan mengenai Full Day School dan ketiga subjek pendidikan:
Desain Segi Positif Pendidikan Berdasarkan Unsurnya
Gambar 1. Sisi Positif Unsur Pendidikan

Keterangan:
Merah Jambu= Sisi Positif
Biru= Pendidikan
Hijau= Lingkungan
Ungu= Keluarga

Desain di atas menjelaskan bahwa pendidikan paling dasar yaitu keluarga, dapat memberikan dampak postif dan negatif. Terdapat beberapa hal yang membuat keluarga sebagai sumber pendidikan utama tidak selamanya memberikan nilai positif terhadap anak.

Berbalik dengan peranan lingkungan, peranannya dinilai memberikan pengaruh yang sangat besar dibandingkan keluarga. Pengaruh yang ditimbulkanpun tidak selamanya positif, bahkan nilai negatif yang dapat timbul dari lingkungan ini lebih besar. Nilai positif memang bisa saja didapati dari lingkungan, tapi itu hanya sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan kebutuhan nilai-nilai postitif anak yang sangat besar. Banyak contoh yang terjadi, diantaranya anak yang baik dalam lingkungan keluarga, dididik dengan baik oleh orangtuanya, namun sayang, bergaul dengan lingkungan yang tidak baik membawanya menjadi anak yang nakal. Ini banyak terjadi di lingkungan kita sehari-hari.
Pendidikan di sekolah, jelas memberikan nilai penuh kepada siswa. Karena, tidak ada satu sekolahpun yang memberikan pengajaran negatif kepada siswa, terkhusus pada peranan guru yang sejatinya memiliki kompetensi yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan wadah bagi anak untuk belajar dan mendapatkan nilai positif secara menyeluruh yang berpengaruh pada diri anak itu sendiri. Oleh sebab itu, kita sebagai orangtua harus paham akan hal ini. Pendidikan Full Day School dirasa perlu untuk diterapkan di sekolah, untuk mengimbangi lingkungan yang belakangan ini menjadi sorotan negative dalam pandangan kita. Namun, peranan orangtua tidak serta merta tergantikan dengan adanya kegiatan Full Day School ini, melainkan orangtua tetap memberikan nilai-nilai positif diluar lingkungan sekolah. Misalnya, sepulang sekolah (biasanya pukul 16.00) orangtua bisa mengambil kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga lengkap. Disinilah kesempatan yang cukup baik dan sangat menarik untuk diterapkan. Disamping itu, Full Day School juga biasanya memilih untuk meliburkan sekolah dihari sabtu dan minggu. Ini menjadi poin penting bahwa keluarga juga dipandang perlu. Waktu libur ini cukup efektif bila dimanfaatkan untuk berkumpul dan liburan bersama keluarga.

Tinggalkan komentar