Strategi Pembelajaran Inkuiri

Dalam proses belajar mengajar, strategi pembelajaran sangat dibutuhkan.

Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran termasuk didalamnya mengidentifikasi segala bentuk dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.

Muhaimin, mengemukakan bahwa paling tidak strategi pembelajaran tersebut sangat bermanfaat pada setiap tahapan dan proses belajar mengajar, baik pada tahap kesiapan (Readiness), pemberian motovasi, perhatian, memberikan persepsi, retensi maupun dalam melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada siswa.

Dapat di jelaskan bahwa strategi yang dibutuhkan adalah persiapan proses belajar mengajar dan yang harus diperhatikan adalah kesiapan belajar siswa baik fisik maupun psikis (Jasmani-Rohani) yang memungkinkan siswa atau subjek untuk melakukan proses belajar.

Selanjutnya, pada aspek pemberian motivasi, strategi sangat memberikan pengaruh karena motivasi ini mengharuskan adanya tenaga pendorong (motivator) atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu, yaitu tujuan dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri.

Adapaun target ideal dari strategi dalam proses pembelajaran adalah kemampuan siswa memahami apa yang telah dipelajari baik kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Oleh sebab itu, keesungguhan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikatakan urgen.

Prinsip ini menyangkut suatu proses yang bersifat menyeluruh atau kompleks yang dapat menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas.

Oleh sebab itu fungsi strategi pandidikan dalam arti mikro (sempit) adalah suatu cara atau teknik yang dapat membantu (secara sadar) pelaksanaan pendidikan dalam mengembangkan aspek jasmani dan rohani peserta didik.


Prinsip Strategi Pembelajaran Inkuiri

Staraegi pembelajaran inkuiri yang menekankan kepada pengembangan intelektual anak.

Perkembangan mental (intelektual) itu menurut piaget dalam sanjaya dipengaruhi 4 faktor, yaitu muturation, physical experience, social experience,dan equilibration.

Muturation atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu perubahan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf.

Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir (intelektual) anak.

Otak bisa dikatakan sebagai pusat sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan.

Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya.

Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir.

Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfer menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide.

Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman.

Social experience adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain.

Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturannya sendiri.

Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual.

Pertama, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa.

Kemampuan berbahasa ini diperoleh melalui percakapan, diskusi, dan argumentasi dengan orang lain (Sanjaya, 2006: 198).

Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentric-nya.

Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya.

Pengalaman semacam itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran etika, moral dan lain sebagainya.

Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya.

Ada kalanya anak dituntut untuk memperbaharui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi yang tidak sesuai.

Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Setiap prinsip tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Berorientasi pada pengembangan intelektual

Tujuan utama dari strategi pembelajarn inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir.

Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.

Karna itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.

2. Prinsip Interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkuangan.

Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkuangan atau pengaturan interaksi itu sendiri.

Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya melalui interaksi mereka.

Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan mudah.

Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri.

Misalnya, interaksi hanya berlangsung antara siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang, atau guru justru menanggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri (Sanjaya, 2006: 200).

3. Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya.

Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah sebagian dari proses berfikir.

Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah strategi pembelajaran inkuiri sangat diperlukan.

Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.

4. Prinsip Belajar Untuk Berfikir

Belajar bukan hanya mengingat sejimlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan; baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek.

Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otaka kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berfikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”.

Oleh karena itu, belajar berfikir logis dan rasional perlu didukung oleh unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur etestika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

5. Prinsip Keterbukaan

Belajar adalah suatu peroses mencoba berbagai kemungkinan.

Segala sesuatu mungkin saja terjadi.

Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnaya.

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.

Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya (Sanjaya, 2006: 201)


Keunggulan dan Kelamahan Strategi Pembelajaran Inkuiri

Pada penjelasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai strategi pembelajaran inkuiri.

Pada dasarnya, setiap jenis-jenis strategi pembelajaran, memang memiliki kelebihan dan kelamahan yang masing-masingnya berbeda.

Demikian pula halnya dengan strategi pembelajaran inkuiri ini, terdapat kelebihan dan kelemahan strategi pembelajaran inkuiri.

Mengenai kelebihan dan kelemahan itu, akan diulas dalam penjelasan berikut ini.

Kelebihan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

  1. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melaui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  2. Strategi pembelajaran inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  3. Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi pembelajaran modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku barkat adanya pengalaman.
  4. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan tehambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.

Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Disamping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran inkuiri juga mempunyai kelemahan, di antaranya:

  1. Jika strategi pembelajaran inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  3. Terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit di impelementasikan oleh setiap guru (Sanjaya, 2006: 208).


Kesulitan Strategi Pembelajaran Inkuiri

Strategi pembelajaran inkuiri salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terdapat beberapa kesulitan.

Pertama, strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berfikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak yang merasa keberatan untuk mengubah pola pengajarannya.

Kedua, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pembelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama.

Ketiga, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir melalui pendekatan student active learning atau yang dikenal dengan CBSA, atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), namun dilain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana dilapangan (Sanjaya, 2006: 207).


Referensi

Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. h. 208.

Tinggalkan komentar