Komponen Pengembangan Kurikulum Pendidikan

Sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik.

Bagian-bagian ini disebut komponen.

Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu.

Kurikulum dapat dikatakan sebagai sistem dan sistem adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasai dalam mencapai satu tujuan.

Dengan dipandangnya kurikulum sebagai sistem, maka dapat berarti kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.

Menurut Tabrani Rusyan komponen kurikulum terdiri dari 3 komponen yaitu: (1) Komponen Tujuan, (2) Komponen Struktur Program, (3) Komponen Strategi Pelasanaan.

Sedangan Menurut S. Nasution komponen Kurikulum yaitu (1) Tujuan pelajaran, umum dan spesifik, (2) Bahan pelajaran yang tersusun sistematis, (3) Strategi belajar-mengajar serta kegiatan-kegiatannya, (4) Sistem Evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai.

Lain halnya dengan Ralph W.Tyler sebagaimana dikutip S. Nasution, mengajukan 4 pertanyaan pokok, yakni:

  1. Tujuan apa yang harus dicapai sekolah?
  2. Bagaimanakah memilih bahan pelajaran guna mencapai tujuan itu?
  3. Bagaimanakah bahan disajikan agar efektif diajarkan?
  4. Bagaimanakah efektivitas belajar dapat dinilai?

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen pengembangan kurikulum terdiri dari 4 komponen, yaitu:

  1. Komponen Tujuan
  2. Komponen Struktur Program dan Materi
  3. Komponen Strategi
  4. Komponen Evaluasi.

Komponen Tujuan

Tujuan pendidikan memegang peranan peting dalam pendidikan, sebab tujuan akan memberikan arah bagi segala kegiatan pendidikan.

Dalam penyusunan kurikulum, perumusan tujuan ditetapkan terlebih dahulu sebelum menetapkan komponen lainnya.

Tujuan pendidikan suatu negara tidak bisa dipisahkan dan merupakan penjabaran dari tujuan negara atau filsafat negara.

Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan negara, yakni membentuk manusia seutuhnya berdasarkan UUD 1945 yang bersumber dari Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional ini bersumber dari Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dirumuskan oleh pemerintah sebagai pedoman bagi pengembangan tujuan-tujuan pendidikan yang lebih khusus.

Dalam Tap. MPR No.II/MPR/1988 tentang GBHN tercantum: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.

Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 4) dikatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan yang berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan rohani dan jasmani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), dasar pendidikan Nasional adalah Falsafah Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pasal 3 menjelaskan bahwa:

  1. Tujuan Pendiidkan Nasional adalah membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
  2. Seluruh Program pendidikan terutama Pendidikan Umum dan bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial, harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila dan unsur-unsur yang cukup untuk meneruskan jiwa nilai-nilai 1945 kepada generasi muda.

Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.

Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan, berupa kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, pendidikan dasar, pendidikan menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi.

Bagi SMA misalnya tujuan institusional umum ialah agar lulusannya:

  1. Menjamin warga negara yang baik sebagai manusia yang u tuh sehat, kuat lahir batin.
  2. Menguasai hasil-hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di Sekolah Menengah Umum tingkat Pertama.
  3. Memiliki bekal untuk melanjutan studinya ke lembaga pendidikan yang lebih tinggin dengan menempuh: (1) program umum yang sama bagi semua siswa, (2) Program pilihan bagi mereka yang mempersiapkan dirinya untuk studi di lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
  4. Memiliki bekal untuk terjun kemasyarakat dengan mengambil keterampilan untuk bekerja yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan minatnya dan kebutuhan masyarakat.

Tujuan Kurikuler

Tujuan Kurikuler ialah tujuan yang diemban dan harus dicapai oleh setiap bidang studi pada lembaga pendidikan tertentu.

Artinya kualifikasi atau kemampuan yang harus dicapai oleh setiap siswa setelah ia menyelesaikan program bidang studi yang bersangkutan.

Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional adalah tujuan yang paling rendah tingkatannya sebab yang langsung berhubungan dengan anak didik.

Tujuan instruksional berkenaan dengan tujuan setiap pertemuan.

Artinya, kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman belajar suatu pertemuan.

Tujuan instruksional di bedakan ke dalam dua jenis yakni tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK).

Perbedaan TIU dan TIK terdapat dalam hal perumusannya, TIU dirumuskan dengan kata-kata tingkah laku yang bersifat umum, sedangkan TIK menggunakan kata-kata yang tingkah laku yang bersifat khusus, artinya dapat diukur setelah pelajaran itu selesai.

Komponen Struktur Program Dan Materi (Bahan Ajar)

Al-Rasyidin mengemukakan bahwa, secara umum cakupan kurikulum pendidikan Islam meliputi seluruh kawasan kehidupan manusia Muslim, baik dalam ruang lingkup wilayah ke khalifahan maupun pengabdiannya kepada Allah Swt sebagai makhluk ibadah.

Karena itu, dalam konteks wilayah ke khalifahan manusia, maka kurikulum pendidikan Islam harus memuat tentang:

  1. Hakikat manusia sebagai: (a) makhluk ciptaan Allah Swt, (b) makhluk yang dianugrahi potensi jismiyah dan rhiyah, sehingga berkemampuan membelajarkan diri, (c) makhluk yang dipilih sebagai khalifah.
  2. Kapasitas atas kemampuan manusia dalam meneladani dan mengembangkan sifat-sifat ketuhanan dan tersimpul dalam asma al-husna ke dalam dirinya.
  3. Adab atau akhlaq al-karimah, yakni nilai-nilai universitas untuk menata kehidupan diri sendiri, masyarakat dan alam semesta yang sejahtera, anggun dan mulia.
  4. Al-ilm, yaitu ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk mampu menjalankan tugas ke khalifahannya, baik ilmu yang didatangkan Allah Swt melalui nabi dan Rasul-Nya, maupun ilmu yang dihamparkan-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia, yang dapat didekati manusia lewat pengindraan, pemikiran, dan eksperimentasi ilmiah.
  5. Sunnah Allah (Sunnatullah), yaitu perubahan dan perkembangan alam semesta kehidupan manusia dimana mereka dipersyaratkan untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian agar mampu menyiasati dan mewarnai perubahan tersebut ke arah yang lebih baik.

Kemudian, dalam konteks disiplin ilmu pengetahuan, maka kurikulum pendidikan Islami harus memuat:

  1. Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dari Alquran dan Sunnah. Ilmu pengetahuan ini berfungsi untuk memberikan panduan, bimbingan, arahan, dan aspirasi nilai dalam kehidupan peserta didik. Meskipun tidak semua bisa diverifikasi secara saintifik, tetapi kebenarannya bersifat absolut atau mutlak, karna berasal dari Tuhan.
  2. Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dengan memberdayakan akal atau rasionalitas manusia, baik melalui perenungan, eksplorasi, maupun eksperimentasi ilmiah.
  3. Ilmu-ilmu bantu untuk mempermudah pengkajian dan pengembangan kedua ilmu di atas, berkenaan dengan bahasa dan metodologi.

Komponen Strategi

Komponen ketiga dari kurikulum ialah penetapan strategi pelaksanaan kurikulum.

Komponen ini tidak lain ialah pengaturan pelaksanaan kurikulum yang terdiri atas:

  1. Sistem penyampaian/proses belajar mengajar.
  2. Penilaian hasil belajar.
  3. Bimbingan dan layanan.
  4. Administrasi dan Supervisi pendidikan.

Penyampaian keempat komponen diatas diarahkan agar kurikulum dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tanpa adanya strategi yang tepat, tak mungkin kurikulum terlaksana dengan baik, sebab:

  1. Sistem penyampaian/proses belajar mengajar ialah penetapan sistem belajar yang efektif dan berdayaguna.

    Dalam kurikulum yang berlaku ditetapkan bahwa sistem penyampaian pelajaran harus menggunakan prosedur pengembangan sistem instruksional (PPSI) dan satuan pelajaran (Stampel).

  2. Penilaian sebagai strategi pelaksanaan kurikulum artinya penetapan pola-pola dan cara-cara yang betul-betul memadai sebagai alat ukur keberhasilan pengajaran.

    Melalui penilaian formatif dan sumatif, diharapkan hasil-hasil yang diperoleh dapat diakui secara obyektif dan komprehensif. Penilaian adalah tolak ukur proses belajar mengajar.

  3. Bimbingan dan pelayanan merupakan kegiatan sebagai upaya bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah dalam belajar, agar ia dapat membantu pengembangan dirinya sendiri.

    Dengan bimbingan dan pelayanan ini, diharapkan hasil yang akan tercapai peserta didik dapat ditingkatkan.

    Oleh sebab itu, program bimbingan dan penyuluhan antara lain merupakan bagian strategi pelaksanaan kurikulum.

    Kegiatan-kegiatan antara lain terutama mengatur kegiatan program, menetapkan sarana dan mekanisme pelaksanaan, mengembangkan instrumen yang diperlukan guna pelaksanaan bimbingan penyuluhan di sekolah.

  4. Administrasi dan supervisi pendidikan sebagai bagian strategi pelaksanaan kurikulum di sekolah.

    Tugas utamanya menunjang kelancaran pelaksanaan proses belajar mengajar, dan merupakan bagian kurikulum.

    Ruang lingkup administrasi kesiswaan, administrasi keuangan, dan administrasi material (perlengkapan pengajaran).

Supervisi ditekankan pada usaha bimbingan dan bantuan kepada guru dalam rangka perbaikan proses belajar-mengajar melalui teknik-teknik supervisi seperti rapat-rapat, homevisite, diskusi, wawancara, observasi kelas, dan lain-lain.

Kesemuanya itu adalah upaya untuk mendukung pelaksanaan kurikulum sekolah.

Menurut Subandijah sebagaimana dikutip Abdulloh, guru perlu memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode yang tepat, dan memusatkan pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan. Pada intinya guru harus mengoptimalkan perannya sebagai educator, motivator, manager, dan fasilitator.

Dengan menggunakan strategi yang tepat dan akurat proses belajar mengajar dapat memuaskan pendidik dan peserta didik khususnya pada proses transfer ilmu yang dapat ditangkap para peserta didik.

Komponen Evaluasi

Untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum, maka diperlukan evaluasi.

Mengingat komponen evaluasi ini sangat berhubungan erat dengan semua komponen lainnya, maka denagan cara evaluasi atau penilaian ini akan mengetahui tingkat keberhasilan dari semua komponen.

Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan formal.

Mengapa demikian? Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektivitas kinerjanya selama ini; sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan.

Evaluasi kurikulum bermacam-macam tujuannya. Yang paling penting di antaranya adalah:

  1. Mengetahui hingga manakah siswa mencapai kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan.
  2. Menilai efektivitas kurikulum.
  3. Menentukan faktor biaya, waktu, dan tingkat keberhasilan kurikulum.

Keterkaitan Antara Komponen Kurikulum

Keempat komponen itu saling berhubungan. Setiap komponen berkaitan erat dengan komponen lainnya.

Tujuan menentukan bahan apa yang akan dipelajari, bagaimana proses belajarnya dan apa yang harus dinilai.

Demikian pula penilaian dapat mempengaruhi komponen lainnya. Pada saat dipentingkannya evaluasi dalam bentuk ujian, misalnya UN, SBMPTN, maka timbul kecenderungan untuk menjadikan bahan ujian sebagai tujuan kurikulum, proses belajar mengajar cenderung mengutamakan latihan dan hafalan.

Bila salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkanya tujuan yang baru, atau cara penilaian, maka semua komponen lainnya turut mengalami perubahan. Kalau tujuannya jelas, maka bahan pelajaran, PBM, maupun evaluasi pun lebih jelas.

Masing-masing komponen tersebut berkaitan erat, saling menunjang, dan merupakan kesatuan yang tak dapat lepas satu dengan lainnya. Apabila satu komponen saja memiliki kelemahan, maka akan berpengaruh dan menjadi lemah pula komponen-komponen lainnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan lemahnya kurikulum itu.

Komponen tujuan misalnya, yang diantaranya memuat berbagai “kemampuan” yang diharapkan dapat dimiliki lulusannya, harus ditunjang oleh “kesesuaian” materi (bahan) pelajaran, proses Belajar Mengajar (PBM), dan evaluasi yang dapat mengukur keberhasilan tujuan tersebut.

Tinggalkan komentar