Kepribadian Guru Yang Mantap Dan Stabil

Kepribadian guru yang mantap dan stabil ini merupakan salah satu indikator kompetensi kepribadian guru.

Apa yang dimaksud dengan kepribadian yang mantap dan stabil itu?

kepribadian-mantap-stabil

Dalam tulisan ini, akan dijelaskan mengenai kepribadian mantap dan stabil yang dimaksudkan itu.

Ikuti tulisan ini hingga usai.


Defenisi Kepribadian Guru Yang Mantap Dan Stabil

Sebenarnya, apa yang dimaksud kepribadian yang mantap dan stabil itu?

Pada kalimat ini, sebenarnya bukanlah merupakan kalimat yang tabu.

Sebagian dari kita tentu memiliki makna sendiri dalam mendefenisikan hal ini.

Namun, secara lebih spesifik, ada hal yang terkandung di dalamnya, yaitu tentang kepribadian.

Untuk hal yang umum, mungkin kata “mantap” atau “stabil” ini dapat didefenisikan dalam berbagai arti dengan disesuaikan kondisi yang ada padanya.

Tetapi, untuk hal kepribadian terkadang sedikit membingungkan.

Pribadi Mantap

Kata “mantap” yang dalam bahasa Inggris disebut “steady” dalam KBBI Online berarti tetap hati, kukuh, tetap, tidak berubah.

Sementara kata stabil memiliki arti tetap, tidak goyang, tetap jalannya.

Hal ini memberi arti bahwa mantap dan stabil memiliki defenisi yang hampir serupa, seperti tetap, kukuh hati, dan kuat.

Kemudian kepribadian yang bersumber dari asal kata pribadi, memiliki arti tentang diri sendiri, atau manusia sebagai perseorangan.

Jadi, berdasarkan defenisi di atas, dapatlah dipahami bahwa kepribadian yang mantap dan stabil itu berarti pribadi yang memiliki jiwa yang teguh, tidak mudah goyah, dan tetap hati.

Guru itu dituntut untuk bekerja secara teratur dan konsisten dalam menjalankan tugas keprofesiannya sebagai guru. Hal ini perlu didukung dengan pribadi yang mantap dan stabil itu sendiri. Dengan adanya pribadi mantap dalam dirinya, maka pekerjaan keprofesiannya itu akan senantiasa dilaksanakan secara kontinue atau berkelanjutan.


Indikator Kepribadian Guru Yang Mantap dan Stabil

Kunandar1 menyebutkan bahwa dalam kepribadian guru yang mantap dan stabil ini, terdapat dua indikator, yaitu:

  1. Bertindak sesuai dengan norma hukum
  2. Bertindak sesuai dengan norma sosial
  3. Bangga sebagai guru
  4. Memiliki konsisteni dalam bertindak sebagai norma

Adapun indikator di atas, akan dijelaskan pada bagian di bawah ini.

Bertindak sesuai dengan norma hukum
Bertindak sesuai dengan norma yang berlaku merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap warga negara Indonesia.

Bagaimana tidak, seluruhnya itu telah diatur dalam Undang-undang yang berlaku.

Bertindak sesuai dengan norma hukum akan memberikan dampak positif bagi setiap warga negara, terlebih bagi seorang guru.

Walau demikian, ini merupakan hal yang perlu senantiasa diingat oleh para guru.

Belakangan ini, terlihat cukup banyak sekali kasus yang terjadi pada seorang guru, dimana guru tersebutlah yang melakukan tindak kejahatan.

Sebagai contoh, terdapat sebuah informasi bahwa guru telah memperkosa muridnya dengan janji nikah dan lulus sekolah yang diberitakan melalui laman tribunnews.com.

Berita ini cukup menghebohkan dalam kalangan pendidik, dan juga khalayak umum.

Berita di atas, memberikan gambaran bahwa bertindak sesuai dengan norma perlu senantiasa diperingatkan oleh para pendidik. Hal ini, merupakan bagian yang dinilai dalam kepribadian guru itu sendiri.

Apa bila guru mampu bertindak sesuai dengan norma hukum yang berlaku, maka pribadinya akan dinilai baik untuk bagian ini.

Namun, masih terdapat bagian lain yang harus dipenuhi untuk memiliki kepribadian yang mantap dan sbatil.

Bertindak Sesuai Norma Sosial
Normal sosial itu berkaitan dengan kemasyarakatan. Kata norma berarti aturan. Jadi, norma sosial itu dapat diartikan sebagai aturan dalam bertindak sesamanya dalam pergaulan di masyarakat.

Umumnya, norma sosial ini dicontohkan seperti kesopanan atau kesusilaan. Untuk hukumannya sendiri, biasanya bersifat kemasyarakatan, seperti dikucilkan dalam lingkungan masyarakat.

Hal ini perlu menjadi perhatian bagi setiap pendidik. Norma sosial dalam kemasyarakatan tentu perlu dijaga. Ini merupakan pembahasan seputar marwah guru, dimana guru itu perlu memperhatikan etika dan perbautannya dimasyarakat. Karena pada dasarnya, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.

Bangga Sebagai Guru
Adakah guru yang tidak bangga terhadap profesinya? Terlepas dari keadaan ekonomi atau finansial guru, hal ini perlu ditanamkan dalam diri seorang guru.

Bangga akan profesinya sebagai guru merupakan bagian dari guru yang mantap dan stabil. Menjadi seorang guru itu perlu bangga. Tidak hanya sebagai guru, pada profesi lainnya juga demikian.

Ini berkaitan tentang guru panggilan jiwa. Mencintai profesinya akan membuatnya bangga sebagai guru. Hal ini tercermin dalam kesehariannya di lingkungan masyarakat.

Sebagai contoh, bila ditanya orang sekitar tentang profesinya, ia akan menjawab “saya seorang guru”.

Memiliki Konsistensi Bertindak Sesuai Norma
Norma menjadi salah satu hal yang harus diterapkan dalam kegiatan bermasyarakat. Guru, perlu memiliki konsistensi untuk bertindak sesuai norma yang ada.

Hal ini sebenarnya melanjut dari poin satu (1) yang telah diuraikan di atas. Setelah sang guru mematuhi norma yang berlaku, hendaknya hal itu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Hal ini akan memberi nilai plus bagi seorang guru. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru, merupakan contoh teladan bagi setiap orang dalam lingkungannya. Oleh karena itu, jangan sampai guru tersebut melanggar norma yang berlaku, baik itu aturan bernegara, maupun aturan adat atau kebiasaan suatu masyarakat tertentu.

Konsistenlah dalam bertindak atau berbuat, ikuti aturan dan norma yang berlaku. Maka hal ini akan memberi nilai baik bagi pribadi guru itu sendiri.


Referensi

1Kunandar, 2009. Guru Profesional, Jakarta: Rajawali Pers. h. 75.

Tinggalkan komentar