Hakikat Pendidikan Islam

hakikat-pendidikan-islam

Pengertian Pendidikan

Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya.

Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia.

Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.

Sebelum diuraikan mengenai pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian pendidikan secara umum agar pembahasannya lebih sistematis.

Mengingat pengertian pendidikan Islam itu tidak terlepas dari pengertian pendidikan pada umumnya.

Dengan demikian akan kita ketahui arti dan batasan-batasan pendidikan Islam yang jelas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Secara istilahnya pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah “pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak, orang Romawi memandang pendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di dunia.

Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erzichung” yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak.

Sedangkan Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Adapun pengertian pendidikan, oleh para pakar antara lain didefinisikan sebagai berikut:

  • Menurut Ahmad D. Marimba, Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
  • Menurut Langeveled, Pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan yaitu kedewasaan.
  • Menurut UU RI No. 20 / 2003 tentang SISDIKNAS, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
  • Menurut Brubacher, Pendidikan diartikan sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manuisa dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia ; moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya yang diharapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya (tujuan akhir).

Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pengertian ini seakan menjelaskan bahwa pendidikan mengandung tiga unsur, yaitu adanya suatu proses, perbuatan dan cara mendidik.

Sebagaimana pengajaran juga diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan serta segala hal yang berhubungan dengan mengajar. Berdasarkan penjelasan ini, istilah pendidikan dan pengajaran, dalam bahasa Indonesiapada satu sisi terkadang selalu dimaknai sama.

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami, pendididkan adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan secara sadar untuk memberikan bimbigan atau pengarahan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan.

Atau dengan kata lain menuju terbentuknya manusia yang dewasa, memiliki ketrampikan, keahlian yang sempurna dengan kepribadian atau akhlak yang utama.

Istilah Pendidikan dalam Islam

Secara umum, jika ditelaah, setidaknya ada tiga terma yang digunakan Al Qur’an dan hadis berkaitan dengan konsep dasar pendidikan Islam. Ketiga terma itu adalah tarbiyah, ta’lim, ta’dib.

Meskipun sering diterjemahkan dalam arti yang sama, yakni pendidikan bahkan terkadang pengajaran, namun ketiga terma ini pada dasarnya memiliki tekanan makna yang berbeda.

Karenanya semua terma tersebut perlu ditelaah untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang hakikat pendidikan dalam Islam.

Dalam penggunaannya terdapat perbedaan di antara para pakar.

Misalnya Ahmad Tafsir lebih condong pada istilah tarbiah, sementara Syed Naquib al-Attas lebih condong pada istilah ta’dib.

Berbeda halnya dengan Azyumardi Azra, menurut beliau pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’lim dan ta’dib yang harus dipahami secara bersama-sama.

Ketiga istilah tersebut mengandung makna yang amat dalam, menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaiatan satu sama lain.

Menurut beliau istilah-istilah itu pula yang sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; formal, informal dan nonformal.

Dari ketiga istilah tersebut yang berkembang dan populer digunakan dalam masyarakat secara umum adalah tarbiyah. Salah satu bentuk penggunaannya terlihat pada penamaan fakultas-fakultas pendidikan dengan Kulliyyah al-Tarbiyah ( كلية التربيه ) yang di Indonesia disebut dengan Fakultas Tarbiyah.

Istilah Tarbiyah

Istilah tarbiyah bisa dilihat dari beberapa akar kata, antara lain pertama raba-yarbu ( ربا – يربو ) yang berarti bertambah dan tumbuh.

Kedua rabiya- yarba ( ربي- يربي ) yang berarti mendidik dan mengasuh.

Ketiga rabba-yarubbu ( رب – يرب ) yang berarti memperbaiki, mengasuh, memimpin, menjaga dan memelihara.

Terma tarbiyah menurut Anis berasal dari kata rabb yang berarti tumbuh dan berkembang.

Pengertian ini juga diberikan oleh Al-Qurtuby yang menyatakan bahwa pengertian dasar kata rabb menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.

Sementara menurut Al-Ashfahany, kata al Rabb bisa berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaan secara bertahap.

Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur, yaitu:

  1. Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.
  2. Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.
  3. Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layal baginya.
  4. Proses ini dilaksanakan secara bertahap.

Istilah Ta’lim

Istilah ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam.

Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal dibanding dengan al-tarbiyah maupun al-ta’dib.

Rasyid Ridho misalnya mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.

Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada ayat ini:

Artinya: Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Kalimat wa yu’allimu hum al kitab wa al hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawah Al-Qur’an kepada kaum Muslimin.

Menurut Abdul Fattah Jalal, apa yang dilakukan Rasulullah bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum Muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.

Oleh karena itu, makna tidak hanya terbatas pada pengetauan yang lahiriyah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan, perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berprilaku.

Istilah Ta’dib

Muhammad Nadi Al Badri, mengemukakan bahwa pada zaman klasik, orang hanya mengenal kata ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan.

Pengertian seperti itu terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam, hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia pada masa itu disebut adab, baik yang berhubungan langsung dengan Islam seperti fikih, tafsir, tauhid, ilmu bahasa arab dan sebagainya, maupun yang tidak berhubungan langsung seperti ilmu fisika, filsafat, astronomi, kedokteran, farmasi, dan lain-lain. Semua buku yang memuat ilmu tersebut dinamai kutub al-adab.

Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. Pengertian ini didasarkan oleh hadis Nabi:

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

Tuhanku telah mendidik ku dan telah membaguskan pendidikanku.

Dalam struktur telaah konseptualnya, ta’dib sudah mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajara (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah).

Dengan demikian ta’dib lebih lengkap sebagai term yang mendeskripsikan proses pendidikan Islam yang sesungguhnya.

Dengan proses ini diharapkan lahir insan-insan yang memiliki integritas kepribadian yang utuh dan lengkap.

Menurut al-Attas, istilah tarbiyah yang sekarang ini banyak digunakan merupakan istilah yang terlalu luas. Kata tarbiyah yang bermakna pengasuhan, pemeliharaan dan kasih sayang, tutur al-Attas, tidak saja ditujukan untuk manusia, tetapi juga digunakan untuk melatih atau memelihara binatang ternak, sedangkan pen¬didikan kata al-Attas mestilah khas manusiawi.

Lebih dari itu, al-Attas menyatakan bahwa penggunaan istilah tarbiyah untuk pengertian pendidikan tidak mempunyai akar yang kuat dalam khazanah bahasa Arab.

Timbulnya istilah itu dalam dunia Islam merupakan terjemahan dari bahasa Latin yaitu educatio, atau dari bahasa Inggris yaitu education, yang dalam pengertian aslinya, menurut konsep Barat yang sekular, lebih cenderung mengutamakan aspek fisik dan material.

Kalaupun dalam istilah Barat itu dijumpai juga makna pembinaan moral dan intelektual, tetapi sumbernya bukanlah wah¬yu, melainkan hasil spekulasi filosofis mengenai etika yang diterap¬kan atas dasar ideologi materialisme dan sekularisme.

Masih menurut al-Attas, bahwa penggunaan kata rabb yang termaktub dalam surat al-Isrâ`/17 ayat 24 yang banyak dijadikan sebagai dasar pemakaian istilah tarbiyah, terlalu dipaksakan.

Dalam hal ini al-Attas berargumentasi bahwa kata rabbayânâ yang terdapat dalam surat al-Isrâ`/17: 24 yang berbunyi wa qul rabb al-ham¬humâ kamâ rabbayânî shaghîrâ” mempunyai arti rahmah yakni ampunan atau kasih sayang dalam arti pemberian makanan, pakaian, tempat berteduh, perawatan dan kasih sayang; sebagai pemeliharaan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Kata “ka” dari “ka mâ” yang terdapat pada ayat itu, di dalam bahasa Arab dikenal sebagai kaf al-tasybiyyah, yang berfungsi untuk perbandingan. Yang diban¬dingkan di sini ialah antara kata irhamhumâ (= rahmah) dengan rab¬bayânî (= tarbiyah). Jadi, makna tarbiyah pada ayat ini sama dengan arti rahmah.

Dilihat dari segi ini jelas bahwa makna rahmah tidak melibatkan pengetahuan, tetapi lebih mengacu pada suatu kondisi eksistensial yang berbeda dengan makna ‘ilm.

Hal ini menjadi jelas seperti diungkapkan dalam surat al-Mu`min/25: 24, bahwa antara rah¬mah dan ‘ilm jelas berbeda.

Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Agama Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.

Omar Muhammad At-Toumi Asy-Syaibany mendefinisikan pendidikan Islam adalah Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.

Pengertian tersebut menfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan dalam masyarakat dan alam semesta.

Sementara pengertian Pendidikan Islam mengutip pendapat para ahli didefinisikan sebagai berikut:

  • Menurut Yusuf Qardawi, pendidikan Islam adalah Pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, jasmani dan rohaninya, akhlak dan ketrampilannya.
  • Menurut Hasan Langgulung, Pendidikan Islam adalah Suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pendidikan Islam dalam pengertian di atas merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui proses mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di bumi yang dalam kerangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Menurut Drs Ahmadi, Pendidikan Islam adalah Segala usaha untuk mengembangkan dan memelihara fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.
  • Menurut Ahmad D. Marimba, Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukukran-ukuran Islam.
  • Menurut al-Thoumi al-Syaibany, Pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya.

Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.

Pendidikan Islam dalam pemahaman Hasan Langgulung mencakup kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi aqidah tetapi juga ibadah serta akhlak.

Lebih lanjut Hasan Langgulung menjelaskan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlak, intelektual, dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai dan prinsip serta teladan yang ideal dalam kehidupan dunia akhirat.

Dari beberapa pengertian tersebut, menurut penulis dalam memberikan pengertian pendidikan, Hasan Langgulung menekankan pendidikan sebagai alat pengembangan potensi, pewarisan budaya dan sebagai interaksi antara potensi dan budaya.

Dalam kesempatan lain Hasan Langgulung memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan berbagai pola tingkah laku tertentu pada anak-anak.

Pendapat ini juga sesuai dengan tokoh-tokoh lain yang mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan hasil pengaruh dari lingkungan terhadap individu yang berupa tindakan membimbing secara sadar untuk memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi insani.

Hanya saja dalam memberikan pengertian pendidikan ini Hasan Langgulung juga memberikan kejelasan mengenai arah dari adanya pendidikan itu sendiri yang berupa pembentukan kepribadian atau terbentuknya manusia seutuhnya, sedang dalam hal ini sebagian tokoh lainnya tidak menambahkan hal tersebut.

Dari beberapa definisi di atas, secara umum pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai suatu proses atau usaha yang dilakukan secara sadar untuk membina, mengarahkan dan mengembangkan secara optimal fitroh atau potensi manusia dalam segenap aspek, baik jasmani maupun rohani berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dengan memerankan fungsinya sebagai Abdullah dan khalifatullah.

Tinggalkan komentar