Dasar-Dasar Pendidikan Islam

Untuk mengetahui Dasar pendidikan Islam, tentu perlu dimulai dari hal yang paling sederhana, agar lebih terarah.

Dasar dalam bahasa Inggris disebut foundation, dalam bahasa Prancis disebut fondement dan dalam bahasa Latin disebut fundamentum.

dasar-pendidikan-islam

Secara bahasa, dasar berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu (baik itu pendapat, ajaran atau aturan).

Ibarat sebuah bangunan, dasar haruslah ada dalam suatu bangunan.

Tanpa memiliki dasar, maka bangunan itu tidak akan dapat berdiri dengan megahnya.

Pada pohon misalnya. Dasarnya adalah akar.

Tanpa adanya akar, pohon itu tidak akan dapat hidup.

Akarlah yang memopang berdirinya pohon tersebut.

Maka tak ada akar, pohon pun tak ada.

Kalimat La Ilaha Illa Allah yang berarti Tidak ada Tuhan selain Allah yang merupakan espresi terdalam keimanan seseorang mungkin di gambarkan oleh Allah SWT. bagi umat Islam agama adalah dasar (pondasi) utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan karena ajaran-ajaran Islam yang bersifat universal mengandung aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik yang bersifat ubudiyyah (mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya), maupun yang bersifat muamalah (mengatur hubungan manusia dengan sesamanya).1

Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar dapat berdiri dengan tegak.

Dasar dalam pendidikan Islam yaitu fundamen yang menjadi landasan atau asas agar pendidikan Islam dapat tegak berdiri tidak mudah roboh karena tiupan angin kencang berupa ideology yang muncul baik sekarang maupun yang akan datang.

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang di sengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat.

Oleh karena itu, pendidikan agama Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia yang insan kamil, harus mempunyai landasan bagi semua kegiatan pembelajaran didalamya.

Yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang melandasi seluruh aktivitasa pendidikan.

Karena dasar menyangkut masalah ideal dan pundamental, maka diperlukan landasan pandangan hidup yang kokoh dan konprehensif, serta tidak mudah berubah, karena diyakini memiliki kebenaran yang telah teruji oleh sejarah.

Kalau nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang dijadikan dasar pendidikan itu bersifat relatif dan temporal, maka pendidikan mudah terombang-ambing oleh kepentingan dan tuntutan sesaat yang bersifat teknis dan pragmatis.

Perumusan dasar pendidikan Islam dimaksudkan untuk membuat koherensi pendidikan dengan nash Alquran dan Hadits Nabi SAW, karena dilatar belakangi oleh pernyataan Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Alquran dan As-Sunah adalah warisan yang paling Agung, dan bagi manusia yang memegang teguh keduanya tidak mungkin tersesat untuk selamanya.2

Disamping itu, dilatar belakangi oleh adanya suatu kenyataan bahwa bagi bangsa Indonesia, banyak produk pendidikan yang masih bertentangan dengan agama Islam.

Padahal, bangsa Indonesia adalah basis terbesar umat muslimnya, namun ia kekurangan paradigma dalam menyusun kerangka acuan pendidikan.

Kondisi di atas, terjadi karena terlalu lama dijajah Belanda dan mereka membawa misi yang bertentangan dengan agama Islam (Aminudin Rasyad 1995:14-16).

Menurut beliau, berbicara mengenai pendidikan Islam, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari wacana dan pemikiran agama Islam itu sendiri.

Karena pembicaraan mengenai pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari agama Islam, maka dasar pendidikan Islam tidak juga dapat dilepaskan dari dasar agama Islam, yaitu Al Qur’an dan As Sunah.

Dalam pendidikan Islam setidaknya ada dua landasan yang mendasarinya, yaitu dasar ideal dan operasional.

Dasar Ideal Pendidikan Agama Islam secara garis besar ada tiga yaitu: Al-qur`an, As-sunnah, dan Ijtihad.

Menetapkan al-Qur’an dan As-sunnah dan Ijtihad sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata.

Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.

Al-Qur’an merupakan dasar pokok bagi pendidikan Islam, karena di dalamnya memuat konsep-konsep hakekat manusia, hakekat pengetahuan, metodologi pendidikan, akhlak, dan konsep pendukung lainnya.

Sementara As-Sunnah merupakan pedoman operasional bagi pelaksanaan Al-Qur’an, karenanya dapat dikatakan bahwa Rasulallah saw merupakan tokoh sentral dalam pendidikan Islam, dimana ajaran-ajarannya mencakup totalitas masyarakat.

Sedangkan Ijtihad merupakan pembaharu yang menyesesuaikan perubahan zaman. Sehingga dinamika pendidikan Islam tidak jumud berjalan ditempat, akan tetapi berjalan kearah depan yang lebih baik dan dinamis.

Adapun dasar operasional pendidikan Islam menurut Hasan langgulung setidaknya ada enam dasar:

Asas histori
Yang mempersepsi si pendidik dengan hasil-hasil pengalaman pendidikan masa lalu, dengan undang-undang dan peratura-peraturannya,batas-batas dan kekurang-kekurangannya.

Asas-asas sejarah ini meliputi sebagian ilmu sejarah dan arkeologi, dokumen-dokumen, dan benda-benda tertulis yang dapat menolong menafsirkan pendidikan dari segi sejarah dan peradaban.

Asas sosial
Yang memberinya kerangka budaya dari mana pendidikan itu bertolak dan bergerak, memindah budaya, memilih dan mengembangkannya.

Asas ini meliputi sebagian ilu sosiologi dan kependudukan, antropologi,dan etnologi, yang dapt menfsirkan masyarakat dan kumpulan, milleieu dan penduduk, sosialisasi dan perubahan dan lain-lain.

Asas-asas ekonomi
Yang memberinya perspektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan serta materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya dan bertanggung jawab terhadap anggaran belanjanya.

Asas ini meliputi sebagian ilmu ekonomi dan accounting, budgeting dan perencanaan yang dapat menolong dalam investasi yang lebih ideal, pulangan yang lebih memuaskan dan kemampuan yang lebih tinggi.

Asas politik dan administrasi
Yang memberinya bingkai dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat.

Asas ini meliputi sebagian ilmu administrasi dan organisasi, undang-undang dan perundang-undangan yang dapat menafsirkan susunan organisasi pendidikan dan mengarahkan geraknya.

Asas-asas psikologis
Yang memberinya informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara-cara terbaik dalam praktik, pencapaian dan penialaian dan pengukuran biologi, fisiologi, dan komunikasi yang sesuai untuk memahami pengajaran dan proses belajar, perkembangan dan pertumbuhan, kematangan, kemampuan dan kecerdasan, persepsi, dan perbedaan perseorangan, minat, dan sikap.
Asas filsafat
Yang berusaha memberinya kemampuan untuk memilih yang lebih baik, member arah suatu sistem, mengontrolnya dan memberi arah kepada semua asas-asasyang lain.

Asas ini meliputi sebagian ilmu etika dan estetik, ideologi dan logika untuk memberi arah kepada pengajaran dan menyelaraskan interasi-interaksi masing-masing, menyusun sistemya sesudah diteliti dan di kritik, dianalisisdan dibuat sintesis.

Alquran

Alquran adalah perkataan atau firman Allah SWT yang diturunkan kepada Muhammad SAW. dalam bahasa arab, diturunkan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.

Alquran merupakan kitab petunjuk bagi setiap umat manusia.

Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya: Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Isra/ 17:9)

Ayat ini menjelaskan bahwa bahwa tujuan Alquran itu sendiri adalah memberikan petunjuk kepada umat manusia.

Tujuan ini hanya akan tercapai dengan memperbaiki hati dan akal manusia dengan akidah-akidah yang benar dan akhlak yang mulia serta mengarahkan tingkat laku mereka kepada perbuatan yang baik.

Menurut pendapat yang paling kuat, seperti yang diungkapkan oleh Subhi Shaleh, al-Qur’an berarti bacaan, yang merupakan kata turunan (masdar) dari fiil madhi qara’a dengan arti ism al-maful yaitu maqru’ yang artinya dibaca.3

“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-Alaq: 1-5).

Ayat tersebut merupakan perintah kepada manusia untuk belajar dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuannya termasuk didalam mempelajari, menggali, dan mengamalkan ajaran-ajaran yang ada al-Qur’an itu sendiri yang mengandung aspek-aspek kehidupan manusia. Dengan demikian al-Qur’an merupakan dasar yang utama dalam pendidikan Islam.

Hubungan antar Alquran dan ilmu pendidikan Islam tampak terbatas pada segi-segi dikemukakan di atas.

Namun, ini tidak berarti bahwa Alquran tidak mempunyai hubungan yang luas dengan dunia pendidikan.

Ahmad Ibrahim Muhanna misalnya yang mengatakan bahwa Alquran membahas berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan terpenting yang dibahasnya.

Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan setiap manusia.

Hal ini tidak aneh mengingat Alquran merupakan Kitab hidayah dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya.

Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian pondasional dan ada yang merupakan bagian parsial.

Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan tidak ada yang tidak langsung.

Al-Qur’an di peruntukkan bagi manusia.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila manusia merupakan tema sentral pembahasannya.

Di dalamnya di terangkan hakikat manusia: siapa dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada, apa yang harus dilakukannya, dan hendak ke mana ia pergi? Masalah hakikat hidup, padangan hidup, dan tujuan hidup merupakan masalah pendidikan.

Namun, masalah itu tidak berada dalam ruang lingkup kajian ilmu pendidikan yang hanya menjangkau fakta-fakta empiris, melainkan dalam rung lingkup fisafat pendidikan yang bisa mengambil datanya dari ajaran-ajaran agama.

As-Sunnah

Setelah Alquran, maka dasar dalam pendidikan Islam adalah as-Sunnah.

As-Sunnah merupakan perkataan, perbuatan apapun pengakuan Rasulullah SAW, yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian itu berjalan.

Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah Alquran, Sunnah juga berisi tentang akidah, syari’ah, dan berisi tentang pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia seutuhnya.4

Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada umat manusia dengan penuh amanat; tidak sedikit pun ditambah ataupun dikurangi. Selanjutnya, manusialah yang hendaknya berusaha memahaminya, menerimanya, kemudian mengamalkannya.

Sunnah, sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an, mengambil dua bentuk: nilai-nilai dan kaidah-kaidah normatif serta teknik-teknik praktis historis.

Bentuk pertama bisa dikembangkan dalam hirarki nilai, sehingga tidak mungkin ada pertentangan antara nilai pokok dan nilai cabang.

Bentuk kedua bisa diubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

Umpamanya dengan menelaah kembali apakah teknik-teknik pendidikan yang digunakan rasul masih relevan atau tidak ada apakah cukup memadai ataukah belum untuk diterapkan di masa sekarang.

Banyak tidakan mendidik yang telah di contohkan Rasulullah saw. Dalam pergaulannya bersama para sahabatnya.

Dia menganjurkan agar pembicaraan yang diarahkan kepada orang lain hendaknya disesuikan dengan tingkat kemampuan berpikir mereka.

Dia memperhatikan setiap orang sesuai dengan sifatnya: wanita atau lelaki, tua atau kanak-kanak. Kepada orang yang menyenangi harta, dia akan memberinya harta agar hatinya menjadi lunak.

Kepada orang yang mencintai kedudukannya, dia akan menempatkan kedudukan orang itu dekat dengannya, karena di mata kaumnya dia adalah orang yang berkedudukan.

Dalam pada itu, dia tidak pernah lengah untuk menyeru mereka agar beribadah kepada Allah dan melaksanakan syariat-Nya.

Ulama muslim telah memahami dan menyadari pentingnya tindakan mendidik yang dicontohlan oleh Rasulullah saw. Di antara mereka ada yang menyusun kitab berisi hadits-hadits rasulullah saw. yang berorientasi pendidikan, seperti kitab Al-Targhib wa Al-targhib.

Kitab karya ‘Abdul ‘Azham Al-Mundziri (581-656 H) ini menanamkan motivasi untuk cinta mengerjakan kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat.

Kitab ini membahas banyak aspek kehidupan: material, spritual, finansial, individual, sosial, peribadatan, dan intelektual. Ada pula ulama yang mempelajari kehidupan dan hadits Rasulullah saw. Untuk menggali beberapa topik pendidikan yang kemudian disusun menjadi kitab.

Contohnya adalah kitab Tuhfah Al-Maudud fi Ahkam Al-Maulud, karya ibnu Qayyim Al-jauziyyah; dan Al-Adab Al-mufrid karya imam Muhammad bin Isma’ il Al-Bukhari.

Yang terakhir ini adalah kitab pendidikan Nabawi yang mengandung beberapa tuntunan sekitar pendidikan dan perlakuan terhadap anak-anak yatim, perilaku sosial, serta menyayangi, mencium, dan bercanda dengan anak-anak.

Ijtihad Atau Ra’yu

Masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial, dan lain sebagainya.Pendidikan sebagai lembaga sosial akan turut mengalami perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.

John Vaizey, seorang guru besar dalam ilmu ekonomi dari Universitas Brunel, Inggris, menggambarkan perubahan yang terjadi pada tahun-tahun pertengahan abad ke-20.

Dikatakannya bahwa meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pengharapan, dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa serta perubahan-perubahan baru dalam pendidikan.

Orang dapat menyaksikan penerapan teknik-teknik ilmu pengetahuan alam dan sosial serta teknologi dalam proses pendidkan sebagai akibat adanya pengertian yang lebih dalam tentang apa yang terjadi dalam pendidkan.

Ada orang yang berpandangan bahwa meningkatnya penggunaan teknik-teknik yang melibatkan elektronika dan perlengkapan lainnya yang kompleks telah mengakibatkan dehumanisasi pendidikan.

Mungkin ada pula orang yang berpendapat bahwa penghotbahan doktrin “afisiensi” dalam penggunaan sumber-sumber untuk pendidikan berarti bersikap pragmatis dan mementingkan kegunaan terhadap pendidikan.

Sehubungan dengan perhatian terhadap efisiensi, ada pula perhatian terhadap latihan bagi orang-orang untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan tertentu.

Dalam kesibukan merenungkan fungsi latihan ini, maka tujuan-tujuan terakhir pendidikan menjadi kabur.

Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa abad ini menyaksikan gugurnya pedoman-pedoman peradaban dalam sekolah dan perguruan tinggi.

Pada masa-masa berikutnya muncul penelitian yang menunjukan kecenderungan dunia untuk menjadikan sekolah sebagai lembag yang bernorma kuat, sehingga tidak ada usaha swasta yang tidak diakui pemerintah bila “norma”-nya tidak memenuhi selera pemerintah.

Sementara itu, sebagai pemikir pendidikan melihat bahwa sekolah tidak bisa diharapkan untuk mengamansipasi martabat kemanusiaan (human dignity).

Mereka mengeritik pandangan yang mempertahankan sekolah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan prinsip bahwa dunia harus maju, tanpa peduli adanya akibat malapetaka ledakan nuklir, pencemaran, dan sebagainya.

Diantara para kritikus yang vokal dalam hal ini ialah ivan illich yang menggambarkan adanya masyarakat bebas dari ikatan-ikatan pendidikan sekolah; paulo freire yang menganggap sekolah sebagai tempat pendidikan rakyat tertidas; dan Everett Reimer yang menganalisis pendidikan sekolah pada kematiannya.

Perubahan-perubahan seperti di kemukakan di atas dan munculnya gagasan-gagasan baru tentang pendidikan pada gilirannya melahirkan berbagai masalah pendidikan.

Masalah-masalah tersebut merupakan perkembangan baru di dunia pendidikan yang tidak dijumpai di masa Rasulullah saw., tetapi memerlukan jawaban untuk kepentingan pendidikan di masa sekarang.

Untuk itulah diperlukan ijtihad dari para pendidik muslim.ijtihad pada dasrnya merupakan usaha sungguh-sungguh orang muslim untuk selalu berprilaku berdasrkan ajaran Islam.

Untuk itu, manakala tidak di temukan petunjuk yang jelas dari Al-Qur’an maupun Sunnah tentang suatu perilaku, orang muslim akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menemukannya dengan memperhatikan prisip-prinsip umum Al-Qur’an maupun Sunnah.

Ijtihad sudah dilakukan para ulama sejak masa shahabat.

Namun, tampaknya literatur-literatur yang ada menunjukan bahwa ijtihad masih terpusat pada hukum syarak.

Yang dimaksud dengan hukum syarak, menurut depinisi ‘Ali Hasballah, ialah proposisi-proposisi yang berisi sifat-sifat syariat (seperti wajib, haram dan sunnah) yang disandarkan pada perbuatan manusia, baik lahir maupun batin.

Kemudian dalam hukum tentang perbuatan manusia ini tampaknya aspek lahir lebih menonjol ketibang aspek batin.

Dengan perkataan lain, fiqih zhahir lebih banyak digeluti daripada piqih bathin. Karenanya, pembahasan tentang ibadah, muamalat, dan jinayat lebih dominan ketimbang kajian tentang iklas, sabar, memberi maaf, merendahkan diri, dan tidak menyakiti orang lain.

Ijtihad dalam lapangan pendidikan malah nyaris ta terdengar.

Sebabnya barangkali bisa di rujuk pada kondisi sosial umat di masa lalu.

Persoalan kenegaraan, perdagangan, perkawinan, dan sebagainya seperti terlihat pada tema-tema piqih tampak merupakan masalah akut pada masa itu, sementara persoalan pendidikan cukup diatasi oleh konvensi-konvensi yang ada.

Meskipun demikian, ada sebagian ulama yang peduli terhadap masalah pendidikan, di antaranya dapat disebutkan kelompok ikhwan Al-Shafa, Al-Ghazali, Ibnu Khladun, Al-Zarnuji, Al-Kanbin, dan Al- Ansari.

Ijtihad dalam lapangan pendidikan perlu mengimbangi ijtihad dalam lapangan fiqih (lahir dan batinnya), mengingat yang pertama merupakan usaha pembudayaannya, sedangkan yang kedua merupakan usaha penggalian budaya itu.

Ruang lingkupnya bisa dalam lingkup filsafat pendidikan Islam dan bisa pula dalam lingkup ilmu pendidikan Islam.

Dalam lingkup ilmu pendidikan Islam, pernyataan Al-Qur’an dan Sunnah hendaknya dipilih mana yang bernialai normatif dan mana yang bernilai teknis-praktis, sehingga tidak terjadi salah perlakuan, tidak membuktikan secara empiris apa yang seharunya diyakini.

Sementara itu, hasil pikir para ulama seperti Ibnu Sina, Al-Gazali, dan Ibnu Khaldun masih terbuka untuk dikaji ulang guna dicari kemungkinan penerapannya di masa sekarang.

Daftar Bacaan Dasar Pendidikan Islam

Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo: Ramadhani, 1993), h. 153
Noeng Muhajjir., Metodologi Pendidikan Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), h.16
Atang Abd Hakim, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), h. 69
Zakiah Daradjat., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 20-21

2 pemikiran pada “Dasar-Dasar Pendidikan Islam”

Tinggalkan komentar