11 Alasan Artikel Ditolak Jurnal dan Cara Mengatasinya

Update
8 menit

Mengirimkan artikel ke jurnal ilmiah tidak selalu berakhir dengan keputusan accepted. Dalam proses publikasi, penulis dapat menerima berbagai keputusan editorial, termasuk penolakan (rejection). Bagi sebagian penulis, artikel yang ditolak mungkin terasa mengecewakan, terutama ketika penelitian yang dilakukan sudah melalui proses panjang.

Namun, artikel ditolak jurnal bukan berarti penelitian tersebut tidak bernilai. Penolakan dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari ketidaksesuaian topik dengan ruang lingkup jurnal, masalah metodologi, kualitas penulisan, hingga persoalan yang berkaitan dengan etika publikasi.

Memahami alasan artikel ditolak jurnal dapat membantu penulis melakukan evaluasi sebelum mengirimkan manuskrip berikutnya. Dengan demikian, penulis tidak hanya berfokus pada mencari jurnal yang menerima artikel, tetapi juga memastikan bahwa manuskrip yang dikirim memang sesuai dengan standar dan karakteristik jurnal yang dituju.

Berikut beberapa alasan yang umum menyebabkan artikel ditolak jurnal.

1. Artikel Tidak Sesuai dengan Scope Jurnal

Salah satu alasan yang paling umum adalah artikel tidak sesuai dengan scope atau ruang lingkup jurnal.

Setiap jurnal memiliki fokus bidang tertentu. Misalnya, sebuah jurnal mungkin berfokus pada pendidikan tinggi, sementara penelitian yang dikirimkan lebih banyak membahas aspek teknologi informasi. Meskipun penelitian tersebut berkualitas, editor dapat menilai bahwa artikel tersebut tidak sesuai dengan fokus jurnal.

Ketidaksesuaian scope bahkan dapat menyebabkan artikel ditolak pada tahap awal sebelum masuk ke proses peer review. Keputusan seperti ini sering disebut sebagai desk rejection.

Dalam hal ini, sebelum penulis melakukan submission, baca halaman Focus and Scope jurnal dengan teliti. Perhatikan bidang penelitian, jenis artikel yang diterima, serta topik-topik yang pernah diterbitkan.

Jangan hanya memilih jurnal berdasarkan judul atau nama bidangnya. Periksa juga artikel-artikel yang telah diterbitkan untuk melihat apakah penelitian Anda benar-benar berada dalam ruang lingkup jurnal tersebut.

2. Manuskrip Tidak Mengikuti Author Guidelines

Jurnal biasanya memiliki pedoman penulis atau author guidelines yang harus diikuti oleh setiap manuskrip yang dikirimkan.

Pedoman tersebut dapat mencakup format naskah, struktur artikel, jumlah kata, format tabel dan gambar, gaya sitasi, format referensi, hingga ketentuan mengenai abstrak dan kata kunci.

Artikel yang tidak mengikuti pedoman dapat menyulitkan proses editorial. Dalam kondisi tertentu, ketidaksesuaian tersebut dapat menjadi alasan editor mengembalikan atau bahkan menolak manuskrip.

Yang perlu dilakukan penulis adalah: Jangan menganggap author guidelines sebagai formalitas. Jadikan pedoman tersebut sebagai salah satu dokumen utama yang diperiksa sebelum submission.

Buat checklist sederhana dan pastikan setiap persyaratan jurnal telah dipenuhi sebelum manuskrip dikirim.

3. Kebaruan Penelitian Tidak Jelas

Jurnal ilmiah tidak hanya membutuhkan penelitian yang dilakukan dengan metode yang benar. Artikel juga perlu menunjukkan kontribusi atau kebaruan (novelty) yang jelas.

Editor dan reviewer perlu memahami: Apa yang baru dari penelitian ini?

Jika artikel hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa memberikan kontribusi yang cukup jelas, editor dapat mempertanyakan alasan penelitian tersebut perlu diterbitkan.

Kebaruan tidak selalu berarti menemukan teori yang sepenuhnya baru. Kontribusi dapat muncul dari konteks penelitian, metode, data, populasi, pendekatan analisis, maupun temuan yang memperluas pemahaman terhadap suatu persoalan.

Cara mengatasinya yakni dengan menjelaskan secara detail posisi penelitian Anda terhadap penelitian terdahulu. Tunjukkan apa yang sudah diketahui, apa yang belum diketahui, dan bagaimana penelitian Anda mengisi celah tersebut.

Dengan kata lain, research gap dan kontribusi penelitian perlu terlihat dengan jelas.

4. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Tidak Jelas

Artikel dapat mengalami penolakan ketika masalah penelitian tidak dirumuskan dengan jelas.

Pembaca perlu memahami sejak awal: masalah apa yang sedang diteliti, mengapa masalah tersebut penting, dan apa tujuan penelitian dilakukan.

Jika pendahuluan terlalu panjang tetapi tidak mengarah pada permasalahan penelitian, artikel dapat kehilangan fokus.

Jadi, periksa kembali hubungan antara latar belakang, research gap, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Keempat bagian tersebut seharusnya membentuk alur yang logis.

Jangan hanya menjelaskan bahwa suatu topik “penting”. Jelaskan persoalan ilmiah yang belum terjawab dan bagaimana penelitian Anda berusaha menjawabnya.

5. Metodologi Penelitian Tidak Memadai

Metodologi merupakan salah satu bagian yang sangat diperhatikan dalam proses evaluasi artikel ilmiah.

Artikel dapat ditolak apabila metode penelitian tidak mampu menjawab pertanyaan penelitian, desain penelitian tidak tepat, sampel tidak memadai, prosedur penelitian tidak dijelaskan dengan cukup, atau analisis yang digunakan tidak sesuai dengan data.

Masalah metodologi menjadi lebih serius apabila kelemahan tersebut memengaruhi validitas hasil dan kesimpulan penelitian.

Penulis perlu memastikan bahwa metode dijelaskan secara transparan dan dapat dipahami oleh pembaca. Jelaskan desain penelitian, sumber data, populasi atau sampel, instrumen, prosedur pengumpulan data, serta teknik analisis yang digunakan sesuai kebutuhan penelitian.

Untuk penelitian kuantitatif maupun kualitatif, pilihan metode harus memiliki alasan yang jelas dan konsisten dengan tujuan penelitian.

6. Hasil Penelitian Tidak Mendukung Kesimpulan

Kesimpulan artikel harus didasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh.

Masalah dapat muncul ketika penulis membuat klaim yang lebih luas daripada yang dapat didukung oleh data. Misalnya, penelitian dengan cakupan sampel terbatas menghasilkan kesimpulan yang terlalu umum.

Ketidaksesuaian antara hasil dan kesimpulan dapat membuat reviewer mempertanyakan validitas interpretasi penelitian.

Jadi, pastikan setiap kesimpulan dapat ditelusuri kembali ke hasil penelitian. Hindari membuat klaim yang tidak didukung oleh data.

Jika terdapat keterbatasan penelitian, sampaikan secara terbuka dan jelaskan bagaimana keterbatasan tersebut memengaruhi interpretasi hasil.

7. Pembahasan Kurang Mengaitkan Temuan dengan Literatur

Bagian hasil menunjukkan apa yang ditemukan. Bagian pembahasan menjelaskan bagaimana temuan tersebut dapat dipahami dalam konteks penelitian sebelumnya.

Artikel dapat dinilai lemah apabila pembahasan hanya mengulang hasil tanpa menjelaskan maknanya.

Pembaca dan reviewer biasanya ingin mengetahui apakah temuan penelitian mendukung, berbeda, atau memperluas hasil penelitian sebelumnya.

Dalam hal ini, penulis perlu menghubungkan temuan dengan literatur yang relevan. Jelaskan mengapa hasil penelitian mungkin sejalan atau berbeda dengan penelitian terdahulu.

Pembahasan yang baik tidak sekadar mengatakan bahwa hasil “sesuai dengan penelitian sebelumnya”, tetapi menjelaskan hubungan dan kemungkinan penyebabnya.

8. Referensi Kurang Relevan atau Tidak Mutakhir

Kualitas referensi juga dapat memengaruhi penilaian terhadap artikel.

Penggunaan terlalu banyak sumber yang sudah lama, referensi yang tidak relevan, atau sumber yang tidak kredibel dapat membuat landasan teori dan pembahasan menjadi kurang kuat.

Namun, bukan berarti semua referensi lama harus dihilangkan. Literatur klasik tetap dapat digunakan apabila memang menjadi dasar penting bagi suatu teori atau konsep.

Cara mengatasinya, bisa dengan menggunakan kombinasi sumber yang relevan, termasuk penelitian terdahulu yang menjadi dasar teori dan penelitian yang lebih baru untuk menunjukkan perkembangan kajian.

Pastikan setiap referensi benar-benar mendukung pernyataan yang dikutip.

9. Artikel Memiliki Masalah Plagiarisme atau Similarity yang Tinggi

Masalah etika publikasi merupakan alasan serius dalam proses editorial.

Penggunaan teks, ide, data, gambar, atau materi lain tanpa atribusi yang tepat dapat menimbulkan persoalan plagiarisme. Demikian pula penggunaan kembali bagian dari karya penulis sendiri tanpa penjelasan yang sesuai dapat menimbulkan persoalan self-plagiarism.

Perlu dipahami bahwa angka similarity bukan satu-satunya dasar untuk menentukan plagiarisme. Editor tetap perlu melihat konteks kemiripan tersebut.

Mengatasi ini, penulis perlu memastikan seluruh sumber yang digunakan diberikan atribusi dengan benar. Periksa kembali kutipan langsung, parafrase, tabel, gambar, dan materi lain yang berasal dari penelitian sebelumnya.

Jangan hanya berusaha menurunkan angka similarity, tetapi pastikan manuskrip benar-benar memenuhi prinsip integritas akademik.

10. Artikel Tidak Memiliki Kontribusi yang Cukup untuk Jurnal

Sebuah penelitian dapat dilakukan dengan metode yang benar dan ditulis dengan baik, tetapi tetap ditolak karena kontribusinya dinilai belum cukup kuat untuk jurnal yang dituju.

Hal ini dapat terjadi ketika hasil penelitian terlalu terbatas, pertanyaan penelitian terlalu sederhana, atau kontribusi terhadap bidang ilmu belum terlihat.

Penilaian mengenai “cukup penting” tentu dapat berbeda antara satu jurnal dan jurnal lainnya.

Jadi, pahami karakteristik jurnal yang dituju. Perhatikan jenis penelitian dan tingkat kontribusi artikel yang biasanya diterbitkan.

Penulis juga perlu menjelaskan kontribusi penelitian secara eksplisit, bukan membiarkan editor atau reviewer menyimpulkannya sendiri.

11. Manuskrip Dikirim ke Jurnal yang Kurang Tepat

Pemilihan jurnal yang tidak tepat dapat meningkatkan kemungkinan penolakan.

Penulis terkadang memilih jurnal hanya berdasarkan reputasi, indeksasi, atau perkiraan peluang diterima. Padahal, kesesuaian artikel dengan jurnal merupakan salah satu faktor penting dalam proses editorial.

Jurnal yang sangat baik belum tentu menjadi jurnal yang tepat untuk setiap artikel.

Cara mengantisipasi ini, evaluasi jurnal berdasarkan beberapa aspek, seperti scope, jenis artikel yang diterima, pembaca sasaran, topik artikel yang baru diterbitkan, serta persyaratan submission.

Dengan memilih jurnal yang tepat sejak awal, penulis dapat mengurangi kemungkinan penolakan yang sebenarnya disebabkan oleh ketidaksesuaian.

Penutup

Artikel ditolak jurnal dapat terjadi karena berbagai alasan. Tidak semuanya menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan penulis buruk. Dalam banyak kasus, penolakan justru berkaitan dengan ketidaksesuaian jurnal, kelemahan dalam penyajian, kurang jelasnya kontribusi penelitian, atau masalah metodologi dan interpretasi.

Karena itu, penulis sebaiknya tidak hanya mencari jurnal yang kemungkinan besar menerima artikel. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa manuskrip sesuai dengan jurnal, memiliki kontribusi yang jelas, menggunakan metode yang tepat, ditulis dengan baik, dan memenuhi prinsip etika publikasi.

Jika menerima keputusan rejection, baca komentar editor dan reviewer secara objektif. Identifikasi masalah yang dapat diperbaiki, lakukan revisi, kemudian pertimbangkan apakah artikel perlu dikirim kembali ke jurnal yang sama atau disubmit ke jurnal lain yang lebih sesuai.

Pada akhirnya, penolakan satu manuskrip bukan selalu akhir dari proses publikasi. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut dapat menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan artikel ilmiah yang lebih baik.