Antara Bakat dan Kebiasaan Sehari-hari

Ditulis oleh
Diperbaharui 12 November 2018
Antara%2BBakat%2Bdan%2BKebiasaan%2BSehari hari
Suatu ketika seorang guru laki-laki muda masuk ke dalam kelas untuk memberikan pembelajaran di sekolah MDA itu. Sore itu, guru membuka pelajaran dengan mengawali doa bersama dengan siswa, dan dilanjutkan dengan bacaan-bacaan surah pendek. Guru memulai dengan mengabsen kehadiran siswa.

Pembelajaran pada hari itu yakni “Alkhot”, yaitu menulis tulisan arab yang dibubuhi dengan berbagai hiasan sesuai dengan tingkat kreativitas masing-masing siswa. Banyak pertanyaan yang dilontarkan siswa terhadap gurunya waktu itu. Bertanya soal tulisannya pakai arti atau tidak, bertanya soal pakai pensil atau pulpen, bahkan ada yang sampai menanyakan tulisannya bagus atau tidak. Guru itu pun menjawab, “tulis saja nak, Abi mau lihat sejauh mana kreativitas kalian. Tuangkan saja apa yang menurut kalian cantik, indah, supaya nanti kalian bisa lestarikan tulisan arab ini.”

Kegiatan berlajan dengan ribut lancar. Ya, ribut lancar merupakan kondiri real di dalam kelas masa sekarang ini. Kalau dulu, ketika kita melihat guru saja sudah takut dan berlomba untuk diam di bangku sekolah. Tapi masa milenial ini, mereka lebih menganggap guru itu sebagai sahabat mereka. Perlu perhatian mendalam bagi seorang guru dalam mengajar di kelas agar tak salah sikap dalam menjalankan aktivitas mengajarnya.

Guru terfokus pada salah satu siswi. Hampir setiap hari, ocehannya terdengar dimana-mana dalam lingkungan sekolah. Siswi yang satu ini, cukup aktif berbicara, apalagi berbicara di dalam kelas. Tapi, siswi ini tidak punya teman sebangku. Setiap harinya selalu duduk sendiri di tempatnya. Tapi itu tidak membuatnya menjadi diam dan lugu, justru itu sama sekali tidak mengganggu, malah dalam suatu waktu, siswi itu berkata bahwa dia lebih senang sendirian dari pada bersama teman.

Guru mengingat segala aktifitas mengajarnya di ruangan yang sama selama seminggu yang lalu. Siswi inilah yang tidak pernah diam di tempat duduknya. Selalu saja berjalan kesana kemari mengikuti maunya. Larangan untuknya harus keras. Jika diberikan arahan dan larangan yang lembut, akan diabaikan olehnya. Namun, guru tersebut bukan sosok yang kejam dan ditakuti siswa di sekolah itu. Kesabarannya membuat siswa merasa nyaman padanya, sehingga segala hal yang ada di benak pikiran siswa, akan dicurahkan kepada guru muda yang satu ini.

Guru itu tetap bersemangat mengajar di kelas dengan salah satu siswi yang sebut saja “perhatian tadi”. Tiga hari sebelumnya, guru itu kebingungan oleh tingkahnya. Siswi itu bersemangat saat diberikan tugas. Namun demikian, tugas yang diberikannya dibuat sebaik-baik mungkin sesuai dengan keinginan hatinya, sehingga waktu pengumpulannya terlambat dibandingkan teman yang lain. Tapi anehnya, siswi ini tidak memperdulikan hal itu. Asik dengan ekspresinya sendiri bersama tugas yang diberikan. Walau sedikit merasa aneh, guru itu mencoba sabar dan memberikan kesempatan bagi siswi ini untuk mengumpulkannya keesokan harinya. Padahal, tugas itu bukan sesuatu yang memakan waktu lama, hanya saja dia melukis-lukis bingkai kertas tugasnya, agar terkesan cantik. Walau pada akhirnya, tugasnya pun tak siap.

Lagi keesokan harinya, pada tugas yang lain dengan tema yang lain. Hal yang hampir serupa juga terjadi. Waktu itu setiap orang harus membaca Alquran di depan kelas dengan dibimbing oleh guru. Tapi, siswi yang dimaksud di atas tadi, juga melakukan hal yang hampir serupa. Dia tak perduli dengan hal itu. Dia lebih sering tertawa terbahak-bahak sendiri sambil mengganggu temannya yang sedang serius belajar Alquran di sekitarnya. Walau demikian, kesabaran guru masih tetap diberikan. Guru itu membiarkan siswi itu mengeksplor pengetahuannya. Seolah tak berarti, tetapi itulah bibit kecil dalam diri mereka yang sepatutnya diperhatikan.

Setelah pembelajaran Alkhot ini, guru itu terkaget karena siswi inilah yang menampilkan karya terbaik di dalam kelas. Hiasan yang dibuatnya benar-benar memikau dan membuat perhatian. Dikatakan demikian, karena di kelasnya, dialah siswi yang terampil memilih model hiasan yang baik untuk tulisannya. Tulisan arab itu ditebalkannya, dibentuknya seolah-olah menggunakan pensil kaligrafi. Luar biasa. Walau tukang bercerita, tapi kreatifitas anak ini dalam bidang desain perlu untuk diarahkan atau dikembangkan.

Dari cerita di atas, yang masih menjadi pertanyaan adalah tidak terlihatnya hubungan bakat dengan aktifitas sehari-hari, mengapa demikian? Apakah kita salah dalam memaknai bakat? Apakah bakat itu sebatas pada kemampuan yang mampu dilakukan sehari-hari? Ah, tak tahulah. Mungkin hal ini bisa dijadikan bahan kajian penelitian secara mendalam.

Tinggalkan komentar